Sabtu, 20 Oktober 2018

Priyo Budi: Di Mata Partai Berkarya, Soeharto Layaknya Bung Karno

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Presiden Soeharto memberikan keterangan pers di depan wartawan dan fotografer setelah diperiksa di Kejaksaan Tinggi (Kajati), Jakarta, 1998.  [TEMPO/ Rully Kesuma; 25d/364/98; 981223].

    Mantan Presiden Soeharto memberikan keterangan pers di depan wartawan dan fotografer setelah diperiksa di Kejaksaan Tinggi (Kajati), Jakarta, 1998. [TEMPO/ Rully Kesuma; 25d/364/98; 981223].

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Jenderal Partai Berkarya Priyo Budi Santoso menyatakan akan berada di garis paling depan untuk melawan serangan fitnah yang ditujukan kepada presiden kedua Indonesia, Soeharto.

    "Ada sebagian orang sering mencerca dan menghina Pak Harto, kami tak akan peduli, tapi jangan coba-coba memfitnah dan menghancurkan, saya akan di garis terdepan melawan fitnah itu meski keluarga Cendana diam," ujar Priyo di sela rapat konsolidasi Partai Berkarya di Museum Soeharto, Kemusuk, Yogyakarta, Senin, 11 Juni 2018.

    Hal itu diungkapkan Priyo ketika ditanya mengenai image Soeharto dan Orde Baru yang dinilai selama ini identik dengan kekuasaan yang otoriter serta diwarnai praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

    Baca jugaLBH: Publik Lupa Kejamnya Soeharto

    "Ada sebagian orang belum mau move on dan masih nyari kesalahan Pak Harto, tapi di mata Partai Berkarya, Pak Harto, seperti halnya Bung Karno (Presiden Sukarno), adalah putra terbaik yang pernah dilahirkan bangsa ini dan banyak jasanya," kata Priyo.

    Priyo menuturkan sebenarnya keluarga Soeharto selama ini memilih tak menanggapi masih adanya serangan kepada penguasa Orde Baru itu. Namun, menurut dia, dengan tumbuh suburnya komunitas pencinta Soeharto di Tanah Air, mulai bermunculan perlawanan terhadap serangan kepada Soeharto itu.

    Baca juga: Begini Kondisi Ruang Rapat Soeharto Setelah 20 Tahun Reformasi

    "Ada 11 komunitas pencinta Pak Harto mengadukan kepada kami kalau mereka tak terima Pak Harto dihina, tapi kami meminta santai saja sepanjang tidak memfitnah," ujarnya.

    Toh, kata Priyo, bagaimanapun, cercaan yang menimpa Soeharto dan para anaknya kini tak sebanding dengan hasil survei yang menyebut bahwa Soeharto merupakan presiden paling besar jasanya dan sukses memimpin Indonesia selama 32 tahun.

    Adapun Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto, selaku Ketua Umum Partai Berkarya, menanggapi santai tudingan image miring era Soeharto itu. "Sekarang lihat saja, yang terbanyak korupsi dari kader partai apa?" tutur Tommy.

    Baca juga: Tutut Akan Jadikan Bekas Kediaman Soeharto sebagai Museum

    Tommy pun menyinggung maraknya operasi tangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi belakangan ini tanpa menyebut nama kader dan asal partainya.

    "Dua puluh tahun reformasi tapi korupsi semakin menjadi, Partai Berkarya hadir untuk menjawab persoalan itu," ujarnya.

    Adapun eks kader Golkar yang juga putri Presiden Soeharto, Siti Hediati Hariyadi alias Titiek Soeharto, mengatakan bukan keluarga yang seharusnya menjawab image miring mengenai Soeharto dan Orde Baru.

    Baca juga: Saadillah Mursjid, Menteri Paling Setia Soeharto

    "Biar rakyat yang menilai," kata Titiek, yang kini resmi menjabat Ketua Dewan Pertimbangan Partai Berkarya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bravo 5 dan Cakra 19, Dua Tim Luhut untuk Jokowi di Pilpres 2019

    Menyandang nama Tim Bravo 5 dan Cakra 19, dua gugus purnawirawan Jenderal TNI menjadi tim bayangan pemenangan Jokowi - Ma'ruf Amin di Pilpres 2019.