Priyo Budi: Di Mata Partai Berkarya, Soeharto Layaknya Bung Karno

Mantan Presiden Soeharto memberikan keterangan pers di depan wartawan dan fotografer setelah diperiksa di Kejaksaan Tinggi (Kajati), Jakarta, 1998. [TEMPO/ Rully Kesuma; 25d/364/98; 981223].

TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Jenderal Partai Berkarya Priyo Budi Santoso menyatakan akan berada di garis paling depan untuk melawan serangan fitnah yang ditujukan kepada presiden kedua Indonesia, Soeharto.

"Ada sebagian orang sering mencerca dan menghina Pak Harto, kami tak akan peduli, tapi jangan coba-coba memfitnah dan menghancurkan, saya akan di garis terdepan melawan fitnah itu meski keluarga Cendana diam," ujar Priyo di sela rapat konsolidasi Partai Berkarya di Museum Soeharto, Kemusuk, Yogyakarta, Senin, 11 Juni 2018.

Hal itu diungkapkan Priyo ketika ditanya mengenai image Soeharto dan Orde Baru yang dinilai selama ini identik dengan kekuasaan yang otoriter serta diwarnai praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

Baca jugaLBH: Publik Lupa Kejamnya Soeharto

"Ada sebagian orang belum mau move on dan masih nyari kesalahan Pak Harto, tapi di mata Partai Berkarya, Pak Harto, seperti halnya Bung Karno (Presiden Sukarno), adalah putra terbaik yang pernah dilahirkan bangsa ini dan banyak jasanya," kata Priyo.

Priyo menuturkan sebenarnya keluarga Soeharto selama ini memilih tak menanggapi masih adanya serangan kepada penguasa Orde Baru itu. Namun, menurut dia, dengan tumbuh suburnya komunitas pencinta Soeharto di Tanah Air, mulai bermunculan perlawanan terhadap serangan kepada Soeharto itu.

Baca juga: Begini Kondisi Ruang Rapat Soeharto Setelah 20 Tahun Reformasi

"Ada 11 komunitas pencinta Pak Harto mengadukan kepada kami kalau mereka tak terima Pak Harto dihina, tapi kami meminta santai saja sepanjang tidak memfitnah," ujarnya.

Toh, kata Priyo, bagaimanapun, cercaan yang menimpa Soeharto dan para anaknya kini tak sebanding dengan hasil survei yang menyebut bahwa Soeharto merupakan presiden paling besar jasanya dan sukses memimpin Indonesia selama 32 tahun.

Adapun Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto, selaku Ketua Umum Partai Berkarya, menanggapi santai tudingan image miring era Soeharto itu. "Sekarang lihat saja, yang terbanyak korupsi dari kader partai apa?" tutur Tommy.

Baca juga: Tutut Akan Jadikan Bekas Kediaman Soeharto sebagai Museum

Tommy pun menyinggung maraknya operasi tangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi belakangan ini tanpa menyebut nama kader dan asal partainya.

"Dua puluh tahun reformasi tapi korupsi semakin menjadi, Partai Berkarya hadir untuk menjawab persoalan itu," ujarnya.

Adapun eks kader Golkar yang juga putri Presiden Soeharto, Siti Hediati Hariyadi alias Titiek Soeharto, mengatakan bukan keluarga yang seharusnya menjawab image miring mengenai Soeharto dan Orde Baru.

Baca juga: Saadillah Mursjid, Menteri Paling Setia Soeharto

"Biar rakyat yang menilai," kata Titiek, yang kini resmi menjabat Ketua Dewan Pertimbangan Partai Berkarya.






Cerita Prajurit RPKAD Temukan Sumur di Lubang Buaya Tempat Jasad 6 Jenderal Korban G30S

4 hari lalu

Cerita Prajurit RPKAD Temukan Sumur di Lubang Buaya Tempat Jasad 6 Jenderal Korban G30S

Hari ini 57 tahun silam, pasca G30S, personel RPKAD menemukan sebuah sumur tua di Lubang Buaya area Halim tempat 6 jasa jenderal dan 1 kapten.


Pemeran Film Pengkhianatan G30S/PKI: Amoroso Katamsi, Umar Kayam, Syu'bah Asa, Ade Irawan hingga Wawan Wanisar

7 hari lalu

Pemeran Film Pengkhianatan G30S/PKI: Amoroso Katamsi, Umar Kayam, Syu'bah Asa, Ade Irawan hingga Wawan Wanisar

Film Pengkhianatan G30S/PKI mulai tayang 1984, dengan biaya produksi Rp 800 juta kala itu. Pemeran film 270 menit ini dari aktor, sastrawan, budayawan


5 Situasi Menjelang G30S, Pertentangan TNI dan PKI Makin Memanas

11 hari lalu

5 Situasi Menjelang G30S, Pertentangan TNI dan PKI Makin Memanas

G30S menjadi salah satu peristiwa kelam perjalanan bangsa ini. Berikut situasi-situasi menjadi penyebab peristiwa itu, termasuk dampak setelah G30S.


Penyintas Petrus Sebut Kepres Nomor 17 Tahun 2022 Sulit Diterima Nalar

12 hari lalu

Penyintas Petrus Sebut Kepres Nomor 17 Tahun 2022 Sulit Diterima Nalar

Seorang pria yang mengaku target pembunuhan misterius atau Petrus di era Soeharto mengkritik terbitnya Kepres Nomor 17 tahun 2022.


Harga Beras Naik, Zulkifli Hasan: Lebih Bagus Sekarang Dibanding Zaman Soeharto

12 hari lalu

Harga Beras Naik, Zulkifli Hasan: Lebih Bagus Sekarang Dibanding Zaman Soeharto

Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan mengklaim kenaikan harga beras hanya sebesar 0,9 persen selama 100 hari masa kerjanya.


Hadiri Acara ICMI, Riza Patria: BJ Habibie Penyatu Pemerintah dan Umat Islam

12 hari lalu

Hadiri Acara ICMI, Riza Patria: BJ Habibie Penyatu Pemerintah dan Umat Islam

Menurut Riza Patria, BJ Habibie berhasil mengubah paradigma umat Islam dan menghilangkan kerenggangan antara pemerintah dan umat Islam


7 Tahun Pendekar Hukum Adnan Buyung Nasution Berpulang, Kisah Mendirikan LBH dan YLBHI

14 hari lalu

7 Tahun Pendekar Hukum Adnan Buyung Nasution Berpulang, Kisah Mendirikan LBH dan YLBHI

Adnan Buyung Nasution sudah 7 tahun berpulang. Pemikiran pendiri LBH dan YLBHI, advokat sekaligus aktivis HAM ini terus bergaung hingga saat ini.


Aset Tommy Soeharto yang Dilelang Tak Kunjung Laku, Kemenkeu: Nilainya Tinggi

21 hari lalu

Aset Tommy Soeharto yang Dilelang Tak Kunjung Laku, Kemenkeu: Nilainya Tinggi

Kemenkeu mengonfirmasi aset-aset milik Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto yang telah disita dan dilelang pemerintah tak kunjung laku.


Patung Kuda Arjuna Wiwaha, Sering Menjadi Titik Utama Aksi Unjuk Rasa

23 hari lalu

Patung Kuda Arjuna Wiwaha, Sering Menjadi Titik Utama Aksi Unjuk Rasa

Patung Kuda Arjuna Wiwaha sering dijadikan titik Kumpul aksi unjuk rasa. Begini kisah patung kuda yang dibangun di era Soeharto.


Kilas Balik Tragedi Kerusuhan dan Penembakan di Tanjung Priok di September Tahun 1984

25 hari lalu

Kilas Balik Tragedi Kerusuhan dan Penembakan di Tanjung Priok di September Tahun 1984

Abdul Qadir Djaelani, seorang ulama sekaligus tokoh masyarakat Tanjung Priok, disebut-sebut kerap menyampaikan ceramah yang dianggap provokatif