Rabu, 20 Juni 2018

Pengamat: Jokowi Perlu Mengelola Selisih Suara di Jawa Barat

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo mengunjungi Pondok Pesantren Darul Ma'arif, Indramayu, pada Kamis, 7 Juni 2018. Dia menyebut pondok ini sebagai pondok pesantren tercantik dan terbersih. Foto: Biro Pers Setpres

    Presiden Joko Widodo mengunjungi Pondok Pesantren Darul Ma'arif, Indramayu, pada Kamis, 7 Juni 2018. Dia menyebut pondok ini sebagai pondok pesantren tercantik dan terbersih. Foto: Biro Pers Setpres

    TEMPO.CO, Jakarta - Dua lembaga survei, Charta Polilika dan Indikator Politik Indonesia, yang kemarin baru saja merilis hasil survei, menempatkan Presiden Joko Widodo atau Jokowi sebagai calon presiden 2019-2024 di posisi teratas untuk wilayah Jawa Barat. Namun, Direktur Lingkar Madani (Lima) Ray Rangkuti mengingatkan, kubu Jokowi jangan terlalu cepat puas dengan hasil-hasil survei tersebut. Sebab, kubu penantang belum bermanuver.

    “Jokowi masih tetap perlu mengelola selisih suara terus menerus. Masih riskan,” ujar Ray Rangkuti saat dihubungi Tempo pada Kamis, 7 Juni 2018.

    Baca juga: Survei: Jokowi Harus Waspada, Tingkat Kepuasan Publik Menurun

    Adapun hasil Survei Indikator menunjukkan, jika saat ini publik harus memilih antara Jokowi dan Prabowo, sekitar 50 persen dukungan jatuh kepada Jokowi. Sementara Prabowo memperoleh 39 persen dan 11 persen lainnya tidak tahu dan tidak menjawab.

    Sedangkan survei Charta Politika menunjukkan Jokowi meraih suara 38,8 persen dan Prabowo 30,2 persen. Calon lainnya, seperti Gatot Nurmantyo meraih 2 persen, Anies Bawedan 1,1 persen, Hary Tanoesoedibjo 0,8 persen, Agus Harimurti Yudhoyono 0,6 persen, dan Ridwan Kamil 0,3 persen.

    Baca juga: Median: Mayoritas Masyarakat Ingin Ganti Jokowi di Pilpres 2019

    Padahal, Provinsi Jawa Barat diketahui sebagai lumbung suara Prabowo pada Pemilihan Presiden 2014. Ray Rangkuti menilai, hal tersebut terjadi karena dua faktor. Pertama, faktor pencapaian-pencapaian pembangunan di era Jokowi sedikit banyak mempengaruhi pandangan dan penilaian publik terhadap elektabilitas Jokowi. “Berbagai capaian itu memberi efek yang dapat mengubah pandangan masyarakat. Efeknya, elektabilitas Jokowi meningkat di kantong-kantong Prabowo,” ujar Rangkuti.

    Kedua, ujarnya, langkah penantangnya yang belum terkonsolidasi sampai sekarang adalah bagian dari sebab merajalelanya terobosan elektabilitas Jokowi di Jawa Barat. “Pesaingnya terlambat melakukan konsolodasi. Selain itu, tidak ada isu khusus yang digarap penantang Jokowi untuk mempertahankan dominaai mereka di Jabar sementara Jokowi sangat rajin melakukan silaturahmi ke basis santri melalui pesantren-pesantren yang dikunjunginya,” ujarnya.

    Baca juga: Kata PDIP Soal Survei yang Menangkan Pasangan Jokowi-AHY

    Sementara Ketua Bidang Media dan Penggalangan Opini Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar Ace Hasan Syadzily optimistis Jokowi akan menang telak di Jawa Barat dalam Pemilihan Presiden atau Pilpres 2019. Partai pendukung Jokowi ini optimis dengan berbagai survei yang menempatkan elektabilitas Jokowi nomor wahid di Jawa Barat.

    Keyakinan itu bertambah, kata Ace, dengan survei tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Jokowi di Jawa Barat sebesar 60 persen. Apalagi, ujar Ace, dua pasangan calon kepala daerah di Jawa Barat, Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul dan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi, masih menempati elektabilitas teratas. Kedua pasangan itu diketahui diusung partai koalisi pendukung Jokowi. "Sudah terlihat sebagian besar partai pendukung dua pasangan ini sudah menyatakan akan mendukung Pak Jokowi di pilpres 2019. Jadi, menurut saya, Pak Jokowi sudah final. Insya Allah pada pilpres 2019, Jokowi menang di Jawa Barat," ujar Ace saat ditemui di bilangan Cikini, Jakarta Pusat, Rabu, 6 Juni 2018.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Libur Lebaran dengan Helikopter, Siapa Takut?

    Helikopter menjadi sarana transportasi yang efektif menghindari macet. Orang-orang berduit memilih menggunakannya, termasuk di libur Lebaran ini.