Pasca-Rusuh Brimob Polri Tangkap 96 Tersangka Teroris

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian memimpin upacara kenaikan pangkat Pati Polri di Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, 18 Mei 2018. Sebanyak 12 anggota perwira tinggi polri dilantik pada acara Korps Raport Kenaikan pangkat Pati Polri. Tempo/Fakhri Hermansyah

    Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian memimpin upacara kenaikan pangkat Pati Polri di Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, 18 Mei 2018. Sebanyak 12 anggota perwira tinggi polri dilantik pada acara Korps Raport Kenaikan pangkat Pati Polri. Tempo/Fakhri Hermansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Pasca-rusuh di Markas Komando Brigade Mobil atau Mako Brimob, Kepolisian RI telah menangkap 96 tersangka terduga teroris. Sebanyak 14 orang diantaranya tewas.

    "Sejak insiden penyerangan di Mako Brimob, polisi telah tetapkan 96 tersangka, 16 diantarnya terpaksa ditembak dan tewas lantaran melakukan penyerangan saat upaya penangkapan," ujar Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian, di kantornya, Jakarta Selatan, Selasa 5 Juni 2018.

    Baca juga: Polisi Telusuri Aliran Dana Terduga Teroris di Riau

    Tito menyebutkan, penangkapan terduga teroris terakhir terjadi di Lampung dan Riau. Untuk di Lampung, Densus 88 Antiteror menangkap dua orang terduga teroris yaitu AU dan IM di Pekon, Desa Waringinsari Barat, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu.

    Sedangkan di Riau, Detasemen Khusus 88 Antiteror menangkap tiga terduga teroris di Gelanggang Mahasiswa FISIP Universitas Riau. Mereka adalah Nur Zamzam yang sudah ditetapkan sebagai tersangka, sedangkan dua rekannya, Rio Bima Wijaya dan Orandir Saputra yang masih berstatus saksi.

    Baca juga: Menkumham Targetkan Penjara Khusus Teroris Selesai Tahun Ini

    Dari hasil penggeledahan di Universitas Riau, polisi menemukan barang bukti berupa 2 bom pipa yang sudah jadi, 2 busur, dan 8 anak panah, 1 senapan angin, 1 video dari ISIS, serta beberapa buku yang berisi teknik merakit bom dan teknik pertahanan diri. Ketiga terduga teroris berencana melakukan aksi peledakan di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah atau DPRD Riau dan DPR

    Tito menyebutkan dari pemetaan Kepolisian sel jaringan ini sudah tersebar di seluruh provinsi, baik yang aktif maupun yang tidak aktif. Namun keduanya sama-sama memiliki potensi untuk melakukan aksi teror.

    Baca juga: Pasca-Penangkapan Teroris di Unri, Polri: Bisa Ada Tersangka Baru

    Menurut Tito, saat ini kepolisian bersama TNI masih bekerja keras untuk memburu jaringan teroris, terutama jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD). "Tim masih bekerja, terutama mengejar jaringan-jaringan JAD," ujarnya.

    Selain itu, Tito telah menginstruksikan Kepolisian Daerah untuk membentuk Satuan Tugas Antiteror, yang dikhususkan memonitor jaringan sel diduga teroris yang nonaktif.

    Baca juga: Begini Kedekatan Terduga Teroris di Universitas Riau dengan JAD

    Tito menyebutkan, Satgas ini dibentuk untuk membantu Densus 88 yang fokus memonitor sel-sel jaringan terduga teroris yang aktif. "Jadi sel-sel yang aktif dimonitor oleh Densus 88 sedangkan yang tidak aktif yang menyebar di daerah dimonitor oleh Satgas Antiteror," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.