Kamis, 20 September 2018

BNPT Kategorikan ITS Terpapar Radikalisme, Rektor Tunggu Data

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lembaga Pengembangan Pendidikan, Kemahasiswaan dan Hubungan Alumni (LP2KHA) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menggelar sebuah diskusi yang membahas tentang rahasia sukses PKM untuk lolos hingga ke Pimnas.(Komunika Online)

    Lembaga Pengembangan Pendidikan, Kemahasiswaan dan Hubungan Alumni (LP2KHA) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menggelar sebuah diskusi yang membahas tentang rahasia sukses PKM untuk lolos hingga ke Pimnas.(Komunika Online)

    TEMPO.CO, Jakarta – Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Joni Hermana mempertanyakan daftar tujuh perguruan tinggi negeri di Indonesia yang disebut terpapar radikalisme oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme atau BNPT.

    Tujuh perguruan tinggi itu ialah Universitas Indonesia (UI), Universitas Diponegoro (Undip), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Airlangga (Unair), Universitas Brawijaya (Unibraw), dan ITS Surabaya.

    Joni Hermana mengatakan belum mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai daftar tersebut. “Pak Menteri (Menristekdikti M. Nasir) sendiri menurut info sudah meminta data ke BNPT untuk dugaan tujuh Universitas itu. Tapi sampai sekarang belum dijawab,” ujar dia saat dihubungi Tempo, Senin, 4 Juni 2018.

    Baca: Radikalisme Marak, Gus Nuril Aktifkan Pasukan Berani Mati Gus Dur

    Merespon tudingan itu, Joni memilih untuk menunggu data resmi dari BNPT. "Saya lebih baik menunggu BNPT untuk mengeluarkan datanya dulu saja,” kata dia.

    Joni menuturkan ITS rutin melakukan pengelolaan kepada siapa saja yang akan dijadikan mentor, yang anggotanya terdiri dari dosen dan mahasiswa. Ini dilakukan guna menangkal upaya penyusupan terhadap pemahaman dan aliran radikal. “Setidaknya itu sudah dilakukan sejak saya menjadi rektor tahun 2015," tuturnya.

    Karena itu Joni mengaku heran saat BNPT menyebut kampusnya sebagai salah satu perguruan tinggi yang tersusupi radikalisme. Sebab guru besar bidang Teknik Lingkungan itu menilai, suasana kampus ITS kondusif, tentram, dan adem ayem. “Heran kok di luar ribut sendiri. Ada apa sih sesungguhnya?” ujar dia.

    Simak: Mahasiswa Deklarasi Lawan Radikalisme di Hari Lahir Pancasila

    Joni menegaskan, sebagai Rektor, ia akan membela setiap civitas academica ITS. Terutama para mahasiswa agar mereka merasa nyaman mempelajari ilmu pengetahuan maupun ilmu kehidupan selama di kampus.

    Pihaknya pun berkomitmen tak akan membiarkan pihak luar menyebar ketakutan pada mahasiswa ITS dan melindungi semua penganut agama untuk menjalankan apa yang menjadi keyakinannya di kampus dengan nyaman. “Saya tahu bagaimana membedakan mereka yang menjadi pengkhianat bangsa dan negara ini,” katanya.

    ARTIKA RACHMI FARMITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Salah Tangkap, Penangkapan Terduga Teroris, dan Pelanggaran HAM

    Sejak insiden Mako Brimob Kelapa Dua pada Mei 2018, Polri tak mempublikasi penangkapan terduga teroris yang berpotensi terjadi Pelanggaran HAM.