PVMBG: Magma Gunung Merapi Masih Jauh di Bawah Puncak

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga mengambil gambar saat Gunung Merapi mengalami erupsi, terlihat dari Jalan Merapi-Boyolali, Jumat, 1 Juni 2018. Letusan ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 77 mm dan durasi 2 menit. Foto: Istimewa

    Warga mengambil gambar saat Gunung Merapi mengalami erupsi, terlihat dari Jalan Merapi-Boyolali, Jumat, 1 Juni 2018. Letusan ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 77 mm dan durasi 2 menit. Foto: Istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menyatakan bahwa hingga saat ini posisi magma Gunung Merapi yang wilayahnya meliputi sejumlah kabupaten di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta masih jauh di bawah puncak gunung berapi itu.

    "Belum terjadi (gerakan magma ke atas, red.) masih jauh di bawah, masih di bawah tiga kilometer. Tidak apa-apa," kata Kepala PVMBG Kasbani di Magelang, Jumat, 1 Juni 2018.

    Ia mengatakan hal itu ketika mendampingi Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Rudy Suhendar mengunjungi tempat pengamatan Gunung Merapi di Pos Babadan sekitar 4,4 kilometer barat daya puncak Merapi di Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

    Baca juga: Tinggi Letusan Gunung Merapi Mencapai 6 Kilometer

    Pada Jumat sekitar pukul 08.20 WIB terjadi lanjutan letusan Gunung Merapi selama sekitar dua menit dengan ketinggian kolom asap sekitar enam ribu meter dari puncak Merapi dan mengakibatkan hujan abu di kawasan utara serta barat daya puncak Gunung Merapi di wilayah Kabupaten Boyolali dan Magelang.

    Hingga saat ini status aktivitas Gunung Merapi masih di level II atau waspada dengan larangan aktivitas masyarakat di radius tiga kilometer dari puncak Merapi.

    Kasbani menjelaskan letusan Merapi akhir-akhir ini sebagai gas yang dilepaskan dari magma, sedangkan magma masih belum bergerak ke atas.

    "Mungkin bergerak di bawah. Jadi untuk erupsi besar berupa awan panas masih belum. Sampai saat ini belum ada peningkatan status, masih di level II atau waspada," ujar dia.

    Kasbani mengatakan sebelum letusan Jumat pagi, memang terpantau terjadinya peningkatan kegempaan sebanyak lima kali dalam 12 jam terakhir.

    Menurut Kasbani material yang dilontarkan dari puncak Gunung Merapi hingga saat ini masih dalam penelitian oleh pihak Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi di Yogyakarta.

    "Itu (material yang dilontarkan apakah dari puncak atau dari dalam Gunung Merapi, red.) masih akan diperiksa, tapi ada indikasi sudah mengarah ke magmatis, tapi material magma masih belum. Untuk jelasnya akan diteliti di lab (laboratorium). Tapi untuk erupsi lebih besar dengan menghasilkan awan panas, masih belum," ujarnya.

    Baca juga: PVMBG Keluarkan Peringatan Penerbangan Akibat Letusan Merapi

    Kasbani meminta masyarakat untuk tidak panik dalam menghadapi perkembangan aktivitas Gunung Merapi akhir-akhir ini.

    "Masyarakat diharap tetap tenang, ikuti arahan dari pemda dan kita dari PVMBG melalui BPPTKG," kata Kasbani.

    Pada 2010 Gunung Merapi mengalami fase letusan besar berupa erupsi eksplosif disusul dengan banjir lahar hujan melewati berbagai sungai yang aliran airnya berhulu di gunung tersebut, dan menerjang beberapa desa, serta mengakibatkan masyarakat mengungsi ke berbagai tempat yang aman.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.