Mencegah Radikalisme, Ini Pesan Panglima TNI untuk Para Orang Tua

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto (kiri) berbincang dengan Anggota DPR Effendi Simbolon (kanan) sebelum rapat kerja Komisi I DPR dengan Panglima TNI dan Kepala BSSN di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, 24 Mei 2018. Rapat tersebut guna mendengarkan penjelasan Panglima TNI terkait dengan pelibatan TNI dalam mengatasi aksi terorisme & rencana pembentukan Koopsusgab TNI. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

    Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto (kiri) berbincang dengan Anggota DPR Effendi Simbolon (kanan) sebelum rapat kerja Komisi I DPR dengan Panglima TNI dan Kepala BSSN di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, 24 Mei 2018. Rapat tersebut guna mendengarkan penjelasan Panglima TNI terkait dengan pelibatan TNI dalam mengatasi aksi terorisme & rencana pembentukan Koopsusgab TNI. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

    TEMPO.CO, Jakarta - Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Marsekal TNI Hadi Tjahjanto punya pesan khusus bagi para orang tua untuk mencegah anak-anak terhindar dari paham radikalisme. Menurut dia, orang tua harus peduli dan harus mengawasi anak-anaknya dari pengaruh radikalisme melalui media sosial.

    “Saat ini, banyak generasi muda yang terpapar radikalisme melalui media sosial,” ujar Panglima TNI, Kamis, 31 Mei 2018. Selain melalui media sosial, paham radikalisme disebarkan lewat pertemuan-pertemuan tertutup.

    Baca: Radikalisme Marak, Gus Nuril Aktifkan Pasukan...

    Menurut Hadi, sangat diperlukan kerja sama antara masyarakat dan aparat untuk membendung pengaruh radikalisme yang dapat berujung pada tindakan anarkis serta aksi-aksi terorisme. Bintara Pembina Desa (Babinsa) dan Bintara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Babinkamtibmas), misalnya, harus berkoordinasi serta bekerja sama dengan semua komponen masyarakat dalam upaya kontra-radikalisasi dan deradikalisasi.

    “Perlu bahu-membahu memberikan pemahaman yang positif, merangkul semua komponen bangsa, serta mengambil tindakan preventif untuk mencegah radikalisme dan terorisme,” ujar Hadi. Babinsa dan Babinkamtibmas memiliki peran sentral dalam mendeteksi serta mencegah secara dini bibit-bibit radikalisme. 

    Baca: UI Bakal Pecat Mahasiswa yang Terbukti Radikal

    Hadi berujar, serangan bom di Surabaya menjadi bukti bahwa tindakan terorisme merupakan jalan yang salah dalam memperjuangkan keyakinan karena mencederai rasa kemanusiaan serta merugikan dan menyakiti orang lain, termasuk anak-anak yang tidak berdosa.

    Salah satu akibat berkembangnya radikalisme adalah teror bom di tiga gereja di Surabaya, Markas Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya, dan ledakan bom di rusunawa Sidoarjo, yang telah menewaskan 27 orang, 13 di antaranya pelaku. Pelakunya terdiri atas tiga keluarga, yakni keluarga Dita, Anton Ferdianto, dan Tri Murtiono. Polisi menyatakan serangkaian teror itu dilakukan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Surabaya. Teror bom itu buntut ricuh di Marko Brimob, Depok, Jawa Barat. JAD merupakan kelompok pendukung Negara Islam dan Suriah (ISIS) yang diketuai Aman Abdurrahman.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.