Ada Potensi Perpecahan Partai Menjelang Pilpres 2019

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi surat suara pemilihan presiden 2014. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    Ilustrasi surat suara pemilihan presiden 2014. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Lembaga Survei Independen Nusantara Yasin Mohammad menyebut adanya ancaman perpecahan di internal partai politik menjelang Pemilihan Presiden atau Pilpres 2019. Perpecahan itu acapkali disebabkan oleh adanya beda pilihan di internal partai.

    "Gaduh politik akibat rekomendasi Capres pada Pilpres 2019 bisa kembali terulang sebagaimana pada 2014,“ ujar Yasin dalam diskusi di Gado-gado Boplo, Jakarta Pusat, Ahad, 27 Mei 2018. Pada kontes sebelumnya, ada dua partai yang terbelah, yakni Golkar dan Partai Persatuan Pembangunan.

    Yasin menuturkan potensi itu kembali muncul lantaran saat ini hampir semua partai peserta pemilu 2019 telah memutuskan secara formal dukungan kepada kandidat presiden melalui mekanisme partai yang dianggap telah merepresentasikan mandat partainya.

    Baca juga: LSI Sebutkan Penyebab Elektabilitas Rendah Partai di Pilpres 2019

    Dalam fatsun politik, kata dia, rekomendasi parpol terhadap dukungan capres melalui mekanisme seperti rapat pimpinan nasional atau musyawarah kerja nasional semestinya mengikat seluruh elemen parpol, mulai dari pengurus, kader, hingga level simpatisan. Suara tersebut, menurut Yasin telah mengerucut kepada dua arus besar yaitu kubu Joko Widodo dan kubu non Jokowi.

    "Pertanyaannya, apakah dukungan atau sikap resmi partai saat ini adalah sikap final kader, simpatisan, atau pemilih pada Pilpres 2019?" kata Yasin. "Bila tidak, maka ancaman perpecahan makin nyata di tubuh parpol."

    Menurut Yasin, perbedaan pilihan itu bisa menimbulkan adanya koalisi elite dan koalisi kader parpol. Belum lagi bila melihat dinamika yang terjadi terutama di kubu pro inkumben, yakni adanya persaingan antara partai yang mendukung salah satu kubu untuk menawarkan tokoh partainya menjadi calon wakil presiden.

    "Apakah akan muncul, baik secara terang-terangan atau di bawah tangan, perpindahan dukungan antara keputusan partai dengan pergerakan kader di bawahnya?" kata Yasin. Bila hal tersebut terjadi, maka ia memprediksi gaduh politik di internal partai tak terelakkan lagi.

    Baca juga: LSI: Enam Partai Berelektabilitas Nol Koma di Pilpres 2019

    Yasin mengingatkan dampak terberat dari perpecahan akibat rekomendasi capres yang tidak solid adalah tidak berjalannya mesin parpol. Padahal, saat ini ajang yang dihadapi adalah pilpres dan pileg yang berjalan serentak.

    "Agenda pemenangan pileg dan pilpres menjadi berantakan, dan tidak menutup kemungkinan gaduh luar biasa di internal parpol," kata Yasin. Ujungnya, bisa terjadi kembali insiden pemecatan kader hingga dualisme kepemimpinan.

    Intinya, Yasin melihat Pemilu dan Pilpres 2019 akan menjadi ujian bagi soliditas dan loyalitas kader parpol terhadap para pemimpin partainya. Juga ujian bagi proses demokrasi pemilihan langsung, terkait dukungan parpol terhadap pilpres.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kerusuhan Manokwari, Bermula dari Malang Menjalar ke Sorong

    Pada 19 Agustus 2019, insiden Kerusuhan Manokwari menjalar ke Sorong. Berikut kilas balik insiden di Manokwari yang bermula dari Malang itu.