Eks Napi Teroris: Jaringan ISIS Tak Rela Saya Ikut Deradikalisasi

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi anggota teroris. shutterstock.com

    Ilustrasi anggota teroris. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Upaya para mantan narapidana terorisme yang menjalani deradikalisasi kerap mendapat ancaman. Seorang mantan anggota kelompok teroris Santoso mengungkapkan ia mendapat ancaman dari jaringan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS saat menjalani deradikalisasi.

    Pria yang minta namanya dirahasiakan itu mengatakan ancaman itu datang dari aplikasi perpesanan WhatsApp. Pengancamnya adalah orang-orang yang ia kenal dengan baik dan masih ada hubungan keluarga. Jaringan ISIS itu tak rela jika dia meninggalkan mereka. “Mereka sebut saya kafir, murtad, dan penghianat,” kata dia di sela acara diskusi bertajuk "Terorisme dan Hate Speech: Tragedi Kemanusiaan dan Bayang-bayang Politik" di kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Baca juga: Al Chaidar: Program Deradikalisasi Teroris BNPT Salah

    Mantan kombatan Poso itu merupakan anggota Yayasan Lingkar Perdamaian di Lamongan, yayasan yang digagas Ali Fauzi, mantan kombatan Afganistan dan Moro. Ia bebas dari penjara pada 2015. Bomber Bali, Ali Imron, juga bergabung di yayasan itu.

    Menurut ayah dari dua anak ini, ia telah berusaha memberikan pencerahan kepada para kelompok terduga teroris itu bahwa konsep jihad mereka salah. Dia, misalnya, memberikan argumentasi lewat ayat-ayat Al-Quran. “Saya juga berkali-kali bilang Indonesia bukan negara perang dan mayoritas Muslim,” ujarnya.

    Namun pandangan orang-orang itu, menurut dia, sulit berubah. Mereka menimpali argumentasinya dengan sangat keras dengan menyebut jihad mereka adalah perintah langsung dari daulah.

    Kini, pria 30 tahun itu berusaha hidup normal. Bekerja sebagai tukang bersih-bersih warung kopi dan bermasyarakat dengan baik. Ia, misalnya, terlibat dalam kerja bakti, perkumpulan rukun tetangga, dan kegiatan di masjid. Ia juga aktif mengkampanyekan bahaya ekstremisme di keluarga dan lingkungannya.

    Baca juga: Eks Napi: Deradikalisasi Belum Sentuh Ideologi Kelompok Teroris

    Pengamat teroris yang juga pengurus Yayasan Lingkar Perdamaian, Muhammad Ni’am Amin, mengatakan Yayasan Lingkar Perdamaian kini menampung setidaknya 100 lebih mantan kombatan dan napi terorisme. Yayasan ini bernaung di bawah Badan Nasional Penanggulangan Terorisme. Program mereka adalah melakukan deradikalisasi.

    Pendekatan dilakukan secara personal kepada mantan kombatan dan napi terorisme dengan menyentuh sisi kemanusiaan. "Caranya silaturahmi dengan mereka di Lembaga Pemasyarakatan Lamongan. Lalu menjawab kebutuhan mereka setelah bebas dari jeruji besi," ujar Ni'am.

    Ni’am berinisiatif menghubungi banyak pengusaha untuk menampung para mantan napi teroris itu. Sehingga mereka, misalnya, bisa bekerja di pabrik pupuk atau warung. “Bila ada anggota keluarga mereka yang sakit dan butuh pengobatan, maka anggota yayasan membantu dengan cara patungan,” ucap Ni’am.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Beberkan RAPBN 2020, Tak Termasuk Pemindahan Ibu Kota

    Presiden Jokowi telah menyampaikan RAPBN 2020 di Sidang Tahunan MPR yang digelar pada 16 Agustus 2019. Berikut adalah garis besarnya.