Pesan Artidjo Alkostar untuk Calon Hakim MA

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Hakim Agung Artidjo Alkostar saat jumpa wartawan di Media Center Mahkamah Agung, Jakarta Pusat, Jumat, 25 Mei 2018. TEMPO/M Julnis Firmansyah

    Mantan Hakim Agung Artidjo Alkostar saat jumpa wartawan di Media Center Mahkamah Agung, Jakarta Pusat, Jumat, 25 Mei 2018. TEMPO/M Julnis Firmansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Hakim Agung Artidjo Alkostar berharap pengganti dirinya nanti bisa memiliki ketekunan melebihi dirinya saat bertugas dulu. Salah satu ketekunan itu adalah selalu pulang larut malam.

    "Karena ada ratusan berkas perkara dari seluruh Indonesia baru datang sore dan harus diselesaikan hari itu juga," kata Artidjo saat ditemui di Mahkamah Agung, Jakarta Pusat pada Jumat, 25 Mei 2018.

    Hakim Artidjo Alkostar memasuki masa pensiun pertanggal 22 Mei 2018 karena telah genap berusia 70 tahun. Selama berkarier selama hakim MA sejak tahun 2000, ia dikenal sebagai hakim yang garang terhadap para terdakwa kasus korupsi.

    Baca: Artidjo Alkostar Pensiun Hakim Agung, Perkara Apa Paling Berat?

    Beberapa perkara kasasi korupsi yang ditanganinya justru menambah masa hukuman terdakwa. Seperti kasus korupsi politikus Partai Demokrat Angelina Sondakh dari vonis empat tahun menjadi 12 tahun penjara, vonis pengacara OC Kaligis dari tujuh tahun menjadi 10 tahun, dan memperberat hukuman dua bekas pejabat Kementerian Dalam Negeri Irman dan Sugiharto, yang terlibat perkara korupsi proyek e-KTP.

    Seiring dengan pensiunnya Artidjo, MA tengah mengadakan seleksi hakim MA. Artidjo pun meyakini proses pemilihan hakim MA saat ini sudah baik. Sebab, saat ini ada uji kelayakan (fit and proper test) yang cukup ketat terhadap calon hakim MA. "Jadi siapapun yang masuk MA sudah selektif dan ada parameternya," kata dia.

    Baca: Cerita Artidjo Alkostar Saat Diteror oleh Ninja dan Disantet

    Artidjo berharap calon hakim MA yang akan jadi penggantinya kelak terus mengasah tiga unsur profesionalisme, yakni perluasan pengetahuan (knowledge) untuk argumentasi hukum, penambahan jam terbang dan kapasitas teknis penegakan hukum, dan mengasah integritas moral.

    Untuk poin terakhir, Artidjo Alkostar menekankan hal itu tidak bisa diajarkan dalam institusi pendidikan kehakiman manapun. Sehingga, dia meminta para hakim MA untuk menumbuhkan hal itu dengan sendirinya. Salah satunya sengan menjaga kebersihan hati dengan tidak pernah menerima suap. "Terima suap itu tidak berkah, banyak yang mati mengenaskan setelah menerimanya," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.