Fredrich Yunadi: Jaksa dan Polisi Beri Perkara Saya Kasih Bonus

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dokter spesialis jantung RS Premier Jatinegara Jakarta Timur, dokter Glen, bermemberikan keterangan sebagai saksi dalam sidang perkara merintangi penyidikan kasus korupsi e-KTP dengan terdakwa Fredrich Yunadi, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, 3 Mei 2018. TEMPO/Imam Sukamto

    Dokter spesialis jantung RS Premier Jatinegara Jakarta Timur, dokter Glen, bermemberikan keterangan sebagai saksi dalam sidang perkara merintangi penyidikan kasus korupsi e-KTP dengan terdakwa Fredrich Yunadi, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, 3 Mei 2018. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta-Terdakwa kasus perintangan penyidikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),  Fredrich Yunadi, mengaku sering memberi bonus kepada pihak-pihak yang membawakan perkara hukum untuk ditangani. Pihak-pihak yang memberi perkara kepada dia itu, kata Fredrich, termasuk jaksa dan polisi.

    "Teman-teman dari jaksa banyak bawa kasus ke saya, Pak. Saya juga kasih bonus kok, Pak. Polisi juga saya kasih bonus, Pak," kata Fredrich Yunadi kepada majelis hakim dalam sidang pemeriksaan terdakwa di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis, 24 Mei 2018.

    Baca: Fredrich Yunadi Diprotes karena Mengira Penyidik KPK Bawa Bom

    Fredrich merupakan terdakwa perintangan penyidikan kasus korupsi e-KTP terhadap kliennya, Setya Novanto. KPK mendakwa Fredrich  merekayasa perawatan Setya di rumah sakit untuk menghalangi penyidikan KPK.

    Fredrich beralasan memberikan bonus untuk menjaga hubungan pertemanan dengan banyak orang. Pemilik firma hukum Yunadi and Associates ini berujar advokat perlu  banyak teman karena tidak boleh pasang iklan. "Kami ini advokat enggak boleh promosi, Pak. Kalau enggak ada teman, kami jadi gembel, Pak," kata dia.

    Simak: Fredrich Yunadi Berang Saat 2 Saksinya Ditolak Jaksa KPK

    Fredrich Yunadi 
    juga menceritakan awal perkenalan hingga bisa menjadi pengacara Setya Novanto. Dia bilang dikenalkan seorang bernama Karen. Fredrich mengaku sebenarnya ingin memberikan bonus pada Karen. Tapi dia mengurungkan niatnya karena belum mendapat bayaran dari Setya. "Karen itu, karena saya belum terima uang, jadi saya kasih angin, Pak," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.