KPK Sita Uang Rp 400 Juta dari OTT Buton Selatan

Reporter:
Editor:

Arkhelaus Wisnu Triyogo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyidik KPK menunjukkan barang bukti uang hasil dari OTT Bupati Bengkulu Selatan, di gedung KPK, Jakarta, 16 Mei 2018. KPK resmi menetapkan empat tersangka yaitu Bupati Dirwan Mahmud, istri muda Bupati, Hendrati, PNS Dinas Kesehatan, Nursilawati dan pemberi suap kontraktor Juhari. TEMPO/Imam Sukamto

    Penyidik KPK menunjukkan barang bukti uang hasil dari OTT Bupati Bengkulu Selatan, di gedung KPK, Jakarta, 16 Mei 2018. KPK resmi menetapkan empat tersangka yaitu Bupati Dirwan Mahmud, istri muda Bupati, Hendrati, PNS Dinas Kesehatan, Nursilawati dan pemberi suap kontraktor Juhari. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyita uang sebesar Rp 400 juta dari operasi tangkap tangan (OTT) di Kabupaten Buton Selatan, Sulawesi Tenggara. Juru bicara KPK, Febri Diansyah, mengatakan duit yang disita dalam bentuk pecahan Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu.

    "Kami dalami lebih lanjut peruntukan uang tersebut," kata Febri di Jakarta, Rabu, 23 Mei 2018. Ia menduga telah terjadi transaksi berkaitan dengan proyek infrastruktur di daerah setempat. Namun, Febri belum membeberkan secara detail proyek apa yang terindikasi praktik lancung di Buton Selatan itu.

    Baca: KPK OTT di Buton Selatan, Bupati dan Sembilan Orang Ditangkap

    Dalam OTT itu, KPK menangkap sepuluh orang. Mereka adalah Bupati Buton Selatan, Agus Feisal Hidayat,  Pegawai Negeri Sipil, konsultan lembaga survei, dan pihak swasta.

    Rasuah di wilayah Sulawesi Tenggara bukan kali ini saja terjadi. Tahun lalu misalnya, KPK memproses hukum Bupati Buton Samsu Umar Abdul Samiun. Ia divonis 3 tahun 9 bulan lantaran terbukti menyuap Hakim Konstitusi Akil Mochtar sebesar Rp 1 miliar untuk mengurus sengketa pilkada di Mahkamah.

    Baca:Kena OTT KPK, Bupati Buton Selatan Diperiksa di Polres Baubau

    Wali Kota Kendari, Andriatma Dwi Putra, juga tertangkap penyidik KPK awal Maret lalu. Ia diduga menerima suap untuk membantu ayahnya, Asrun, maju dalam Pemilihan Gubernur Sulawesi Tenggara.

    Penjabat Gubernur Sulawesi Tenggara, Teguh Setya Budi, mengajak aparatur sipil negara, khususnya di Buton Selatan, untuk waspada terhadap peluang korupsi. Tak hanya ASN, ia juga meminta jajaran legislatif dan pemerintah daerah untuk tidak tergoda rasuah. “Yang harus dihindari diantaranya pengadaan barang dan jasa, serta perencanaan penganggaran dan bantuan sosial,” katanya seperti dikutip dari Antara.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kerusuhan Manokwari, Bermula dari Malang Menjalar ke Sorong

    Pada 19 Agustus 2019, insiden Kerusuhan Manokwari menjalar ke Sorong. Berikut kilas balik insiden di Manokwari yang bermula dari Malang itu.