Video Sobekan Alquran Viral, Ketua DPR Minta Polisi Cari Pelaku

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Dewan Perwakilan Rakyat RI Bambang Soesatyo meminta Komisi III DPR mendesak Polri mencari pembuat dan penyebar sobekan Alquran yang sedang viral. "Itu upaya adu domba yang perlu diwaspadai, jangan terpancing adu domba," ujar Bambang kepada wartawan di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin, 21 Mei 2018.

    Menurut Bambang, video itu upaya mengadu domba antarumat beragama. "Orang gila mana yang menyobek, menyebarkan, kemudian memvideokan sobekan Alquran?”

    Baca: Din Syamsuddin: Al-Quran Tak Perlu Menjadi ...

    Polisi sedang menyelidiki viralnya video sobekan Alquran yang bertebaran di Jalan Gunawarman, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Ahad malam, 20 Mei 2018. "Itu sedang kami selidiki," ujar Kepala Kepolisian Resor Jakarta Selatan Komisaris Besar Indra Jafar saat dihubungi, Senin, 21 Mei 2018.

    Polisi, kata Jafar, sudah menyisir lokasi kejadian dengan menggandeng Komando Distrik Militer (Kodim) dan Komando Resort Militer (Korem). Dalam video berdurasi 27 detik itu, seorang pria yang merekam menyayangkan perilaku penyobekan Al Quran.

    Baca: Polri Akan Evaluasi Soal Al Quran Jadi Barang ...

    "Ini Alquran, bukan uang. Tak tahu nih siapa pelakunya yang sobek dan buang di jalan Gunawarman," kata lelaki di video itu, disertai bukti sobekan Alquran, Ahad malam, 20 Mei 2018.

    Dalam video itu menayangkan sobekan kertas Al Quran dalam jumlah yang cukup banyak dan berhamburan di sepanjang Jalan Gunawarman. Indra mengimbau kepada masyarakat agar tidak mudah terpancing dengan adanya kejadian itu. "Orang yang mempunyai kepentingan ingin memecah belah. Jadi jangan terpancing." Ia meminta masyarakat menyerahkan masalah sobekan Alquran  itu kepada polisi.

    REZKI ALVIONITASARI | ANDITA RAHMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.