Muhaimin: Jadikan Harkitnas Spirit Memajukan Negara

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Ketua MPR RI Muhaimin Iskandar memberikan Kuliah Umum dalam rangka Dies Natalis ke 60 Fakultas Hukum UKI, itu berlangsung di Kampus UKI Cawang Jakarta Selatan, Senin (21/5).

    Wakil Ketua MPR RI Muhaimin Iskandar memberikan Kuliah Umum dalam rangka Dies Natalis ke 60 Fakultas Hukum UKI, itu berlangsung di Kampus UKI Cawang Jakarta Selatan, Senin (21/5).

    INFO NASIONAL - Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Muhaimin Iskandar meminta segenap bangsa Indonesia menjadikan peringatan Hari Kebangkitan Nasional sebagai spirit untuk menjadi negara maju. Sekaligus menjadi kekuatan agar Bangsa Indonesia mampu bersaing, berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan negara lain di dunia.

    Pernyataan itu disampaikan Muhaimin setelah menyampaikan kuliah umum dihadapan Civitas Akademika Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia (UKI). Kuliah umum dalam rangka Dies Natalis ke-60 Fakultas Hukum UKI, itu berlangsung di Kampus UKI, Cawang, Jakarta Selatan, Senin, 21 Mei 2018. Pada kesempatan itu, Cak Imin, sapaan akran Muhaimin, membawakan tema “Mempertahankan Semangat Nasionalisme di Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia”.

    Menurut dia, sudah banyak keberhasilan yang dicapai bangsa Indonesia selama era reformasi. Namun masih banyak juga kekurangan yang harus segera dibenahi. Salah satunya adalah persoalan kesenjangan yang masih terus memprihatinkan.

    “Semangat Hari Kebangkitan Nasional harus mampu membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju, tidak tertinggal bangsa-bangsa lain,” katanya.

    Sementara itu, saat menyampaikan kuliah umum, Muhaimin mengingatkan ada berbagai tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia dalam rangka mempertahankan NKRI. Antara lain, munculnya aliran-aliran baru yang ada di tengah masyarakat. Serta, timbulnya kesenjangan yang makin lebar. Bahkan, kalau kesenjangan tersebut tidak segera diatasi, potensi terjadinya perpecahan bangsa, semakin besar.

    Pada saat berlangsung reformasi, kata Muhaimin, berbagai pengamat luar negeri meramalkan bangsa Indonesia akan terpecah menjadi negara-negara kecil seperti yang menimpa Yugoslavia. Alasannya, karena Indonesia terdiri atas berbagai keragaman. Ramalan itu tidak benar dan hanya Timor Timur yang terpisah dari Ibu Pertiwi.

    “Waktu itu, kita berhasil menutup ekspansi masuknya nilai-nilai asing dari luar dan mampu mengikat persatuan. Sehingga kita terhindar dari perpecahan yang lebih besar. Namun keberhasilan itu harus segera diimbangi dengan pemerataan kesejahteraan yang lebih nyata bagi semua warga Indonesia, agar NKRI ini tertap terjaga,” tuturnya. (*) 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.