Cerita Eks Anak Didik Aman Abdurrahman Bertobat Dibantu Ali Imron

Reporter

Yudi Zulfachri, mantan terpidana terorisme yang sudah bertaubat di Warung Daun, Jakarta, 18 Mei 2018. Tempo / Friski Riana

TEMPO.CO, Jakarta - Mantan terpidana terorisme, Yudi Zulfachri, mengaku paham radikal yang ada dalam dirinya telah hilang. Bekas anak didik Aman Abdurrahman ini menjalani proses deradikalisasi selama lima tahun, dibantu oleh terpidana terorisme yang sudah lebih dulu sadar.

"Saya waktu itu pertama kali yang memoderasi saya ustad Ali Imron. Dari situ saya mulai terus belajar," kata Yudi di Warung Daun, Jakarta, Sabtu, 19 Mei 2018.

Baca: Pengacara: Aman Abdurrahman Imbau Anak Buahnya Hijrah ke Suriah

Yudi merupakan alumni STPDN (Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri) dan bekerja sebagai PNS di Baitul Mal Kota Banda Aceh. Ia memutuskan bergabung dengan kelompok teroris setelah mendapat doktrin dari pimpinan Jamaah Ansharut Daulah (JAD), Aman Abdurrahman. Saat ini, Aman sedang menghadapi persidangan terkait kasus teror di Indonesia. Dalam persidangan sebelumnya, Aman dituntut hukuman mati. 

Ia mendapat doktrin bahwa imannya belum sah jika masih bergabung sebagai PNS, dan dianggap kafir. Karena itu, sebagai pembuktian keimanannya, Yudi melepas diri dari pemerintahan dan mengkafirkan aparat pemerintah.

Namun, ia belum sampai pada tahap akhir, yaitu membenci dan memusuhi pemerintah. Untuk sampai pada tahap itu, seseorang harus membuktikannya dengan melakukan aksi teror.

Baca: Cara BNPT Naikkan Kewaspadaan Usai Aman Abdurrahman Dituntut Mati

Yudi ditangkap pada 2010 di kawasan pegunungan Jali, Kecamatan Jantho, Kabupaten Aceh Besar, setelah empat tahun mendapat doktrin dan mengikuti pelatihan militer di Aceh.

Ketika menjalani proses deradikalisasi, Yudi mengatakan bahwa ia hanya ingin dimoderasi oleh Ali Imron karena merasa sama-sama seorang jihadist. Selain Ali Imron, Yudi juga mendapat bantuan dari sesama tahanan teroris.

Selain itu, ia menuturkan, adanya revisi Al-Qaeda di bawah Ayman al-Zawahiri pada 2011 juga menjadi alasan dia berubah. Apalagi sebelumnya dia juga bergabung dengan teroris karena Al-Qaeda. Dalam revisi itu disebutkan bahwa hanya boleh melakukan serangan di wilayah konflik atau di Amerika. 

"Al-Qaeda mengatakan evaluasi diri kalian, belajar lah kepada orang-orang di luar kalian. Masuk doktrin itu ke saya. Saya harus evaluasi, belajar ke yang lain," ujarnya.

Proses menghilangkan paham radikal itu dilakukan bertahap seperti pecandu narkoba yang menjalani rehabilitasi. Peran keluarga, kata dia, juga sangat membantu dalam pemulihan paham radikal yang ada padanya. Sang ayah, kata Yudi, mendoktrin dirinya dengan Surat Al-Mumtahanah.

Setelah bebas dari penjara, Yudi kini aktif bekerja di sebuah yayasan dan membuat seminar-seminar di kampus untuk pencegahan radikalisme. Sambil bekerja, bekas murid Aman Abdurrahman ini juga menempuh pendidikan tinggi di Universitas Indonesia jurusan ketahanan nasional.






Ledakan di Asrama Brimob Sukoharjo, Bukan Pertama Kali di Kabupaten Sukoharjo

2 hari lalu

Ledakan di Asrama Brimob Sukoharjo, Bukan Pertama Kali di Kabupaten Sukoharjo

Sejak 2010, Sukaharjo kerap terjadi teror dan bom, terakhir ledakan di Asrama Brimob Sukoharjo. Ini kejadian beberapa tahun belakangan.


Bandit Bersenjata Serang Salat Jumat di Nigeria, 15 Jamaah Tewas

3 hari lalu

Bandit Bersenjata Serang Salat Jumat di Nigeria, 15 Jamaah Tewas

Sekelompok pria bersenjata menyerang sebuah masjid dan menewaskan sedikitnya 15 jamaah salat Jumat di negara bagian Zamfara, Nigeria


Kepala BNPT Bilang Media Sosial Kerap Disalahgunakan Kelompok Teror

4 hari lalu

Kepala BNPT Bilang Media Sosial Kerap Disalahgunakan Kelompok Teror

Kepala BNPT Boy Rafli Amar mengatakan keberadaan media sosial kerap disalahgunakan kelompok teror untuk menebar propaganda menciptakan perpecahan.


Ditolak, Petisi Pemerintah Filipina agar Partai Komunis Jadi Kelompok Teroris

6 hari lalu

Ditolak, Petisi Pemerintah Filipina agar Partai Komunis Jadi Kelompok Teroris

Pengadilan meminta pemerintah Filipina untuk memerangi pemberontakan komunis, salah satu yang terlama di Asia, dengan menghormati hukum


Tangkap 13 Tersangka Teroris di Riau, Densus 88: Mereka Latihan di Perkebunan Sawit

13 hari lalu

Tangkap 13 Tersangka Teroris di Riau, Densus 88: Mereka Latihan di Perkebunan Sawit

Densus 88 menangkap total 13 tersangka teroris dari kelompok Anshor Daulah (AD) pendukung ISIS di Dumai


Densus 88 Tangkap 8 Tersangka Teroris Kelompok Anshor Daulah di Riau

14 hari lalu

Densus 88 Tangkap 8 Tersangka Teroris Kelompok Anshor Daulah di Riau

Densus 88 menangkap delapan tersangka teroris di delapan lokasi berbeda di Dumai pada pukul 07.05-12.10 WIB.


Jejak Perburuan Osama Bin Laden, Pemimpin Al Qaeda Dalang Teror 11 September

18 hari lalu

Jejak Perburuan Osama Bin Laden, Pemimpin Al Qaeda Dalang Teror 11 September

Dalang teror 11 September 2001, Osama bin Laden lahir di Riyadh, Arab Saudi sekitar tahun 1957 atau 1958.


Teroris Al Shabab Dikepung Tentara 30 Jam, Drama Penyanderaan di Hotel Somalia Berakhir

38 hari lalu

Teroris Al Shabab Dikepung Tentara 30 Jam, Drama Penyanderaan di Hotel Somalia Berakhir

Pasukan keamanan telah mengakhiri pengepungan oleh gerilyawan terafiliasi Al Qaeda di sebuah hotel di ibu kota Somalia.


Cerita Teroris Santoso dan Noordin M Top yang Pernah Jadi Buronan Nomor 3 FBI

39 hari lalu

Cerita Teroris Santoso dan Noordin M Top yang Pernah Jadi Buronan Nomor 3 FBI

Teroris Santoso yang lahir 21 Agustus 1976 diketahui terinspirasi Abu Bakar Ba'asyir, Abdullah Sungkar, Imam Samudera, Dr. Azahari dan Noordin M. Top


Teroris Al-Shabab Serbu Hotel di Somalia, 8 Warga Sipil Tewas Ditembak

40 hari lalu

Teroris Al-Shabab Serbu Hotel di Somalia, 8 Warga Sipil Tewas Ditembak

Sebanyak delapan warga sipil tewas akibat serangan teroris ke sebuah hotel populer di Mogadishu, Somalia.