Pembentukan Koopssusgab Dinilai Kebijakan Emosional

Editor

Amirullah

Sejumlah personil Batalyon Komando 464 Paskhas Malang, menunjukan kemampuan penyerbuan gedung saat Latgab TNI-POLRI. Latihan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan, para personil dalam menangani ancaman terorisme. Malang, 13 Agustus 2015. TEMPO/Aris Novia Hidayat

TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Adrianus Meliala, menilai pembentukan Komando Operasi Khusus Gabungan atau Koopssusgab dalam memburu jaringan teror sebagai kebijakan emosional.

“Kita kan sedang menunggu revisi Undang-Undang Terorisme, kenapa enggak menunggu itu saja sebagai upaya hukum yang lebih ajeg (tegas) dan komprehensif,” kata Adrianus saat dihubungi Tempo, Sabtu, 19 Mei 2018.

Baca: Jokowi: Koopssusgab Diterjunkan Jika Polri Tak Sanggup Lagi

Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengatakan Koopssusgab telah diaktifkan kembali oleh Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto. Jokowi mengatakan Koopssusgab TNI diaktifkan kembali untuk menciptakan rasa aman di tengah masyarakat. Selain itu, Koopssusgab baru akan diterjunkan dalam pemberantasan terorisme jika Polri sudah tidak sanggup menanganinya.

Adrianus menjelaskan, situasi pembuatan Koopssusgab mirip saat pembuatan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perpu) mengenai hukuman kebiri pelaku kejahatan seksual terhadap anak.

Saat itu, kasus pemerkosaan terhadap anak marak terjadi hingga akhirnya Jokowi menerbitkan Perpu Nomor 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. “Tapi tidak jalan perpunya. Soalnya, kebijakan itu dibuat saat situasi sedang ekstrem,” ujar Adrianus.

Baca: Presiden Jokowi Setuju Koopssusgab TNI Beranggotakan 90 Prajurit

Menurut Adrianus, yang saat ini menjabat Komisioner Ombudsman, pembuatan kebijakan harusnya dilakukan saat situasi tenang. Kerusuhan di Markas Komando Brimob, Kelapa Dua, Depok, dan beberapa aksi teror di Indonesia pada pekan lalu membuat situasi keamanan berada dalam kondisi ekstrem. Sehingga, kata dia, seharusnya Presiden menunggu situasi tenang lebih dulu sebelum memutuskan pengaktifan Koopssusgab.






Polisi dan TNI Turunkan 4.400 Personel untuk Jaga Demonstrasi di Jakarta Hari Ini

18 jam lalu

Polisi dan TNI Turunkan 4.400 Personel untuk Jaga Demonstrasi di Jakarta Hari Ini

Kepolisian bersama TNI dan pemerintah daerah menyiagakan 4.400 personel gabungan menjaga unjuk rasa di Jakarta, Selasa, 27 September 2022


DKI Ajak TNI dan Polri Gerebek Lumpur, dan Profil Kapolres Metro Jakarta Selatan Jadi Top 3 Metro

23 jam lalu

DKI Ajak TNI dan Polri Gerebek Lumpur, dan Profil Kapolres Metro Jakarta Selatan Jadi Top 3 Metro

DKI Jakarta bersama personel gabungan TNI, Polri, dan komunitas masyarakat melaksanakan gerebek lumpur jadi Top 3 Metro.


Panglima TNI Andika Perkasa Revisi Aturan Penerimaan Calon Taruna: Batasan Usia hingga Tinggi Badan

23 jam lalu

Panglima TNI Andika Perkasa Revisi Aturan Penerimaan Calon Taruna: Batasan Usia hingga Tinggi Badan

Andika Perkasa merevisi aturan Panglima TNI Nomor 31 Tahun 2020 berkaitan dengan penerimaan calon taruna untuk mengakomodasi kondisi umum remaja


Anggota DPR Sebut Hubungan Andika Perkasa dan Dudung Abdurachman Terlihat Baik

1 hari lalu

Anggota DPR Sebut Hubungan Andika Perkasa dan Dudung Abdurachman Terlihat Baik

Andika Perkasa dan Dudung Abdurachman hadir dalam rapat di Komisi I DPR.


5 Situasi Menjelang G30S, Pertentangan TNI dan PKI Makin Memanas

1 hari lalu

5 Situasi Menjelang G30S, Pertentangan TNI dan PKI Makin Memanas

G30S menjadi salah satu peristiwa kelam perjalanan bangsa ini. Berikut situasi-situasi menjadi penyebab peristiwa itu, termasuk dampak setelah G30S.


DKI Ajak TNI dan Polri Gerebek Lumpur Bersihkan Waduk Pluit Jakarta

1 hari lalu

DKI Ajak TNI dan Polri Gerebek Lumpur Bersihkan Waduk Pluit Jakarta

Wakil Wali Kota Jakarta Utara Juaini bersama personel gabungan Pemerintah Kota, TNI, Polri, dan komunitas menjalankan gerebek lumpur di Waduk Pluit.


23 Tahun Tragedi Semanggi II: Nasi Bungkus Terakhir Mahasiswa UI Yap Yun Hap

3 hari lalu

23 Tahun Tragedi Semanggi II: Nasi Bungkus Terakhir Mahasiswa UI Yap Yun Hap

Yap Yun Hap adalah salah seorang korban penembakan pada 24 September 1999 dalam Tragedi Semanggi. Siapa pembunuh Yun Hap belum terungkap.


Anggota TNI Tersangka Mutilasi 4 Warga Papua Diduga Punya Bisnis Gelap Penimbunan BBM

3 hari lalu

Anggota TNI Tersangka Mutilasi 4 Warga Papua Diduga Punya Bisnis Gelap Penimbunan BBM

Gudang yang menjadi lokasi perencanaan pembunuhan dan mutilasi 4 warga Papua diduga juga berfungsi sebagai lokasi penimbunan BBM jenis Solar.


Ini Kronologi Mutilasi 4 Warga Papua oleh anggota TNI Versi KontraS

3 hari lalu

Ini Kronologi Mutilasi 4 Warga Papua oleh anggota TNI Versi KontraS

KontraS mengungkap fakta kasus mutilasi 4 warga Papua oleh para anggota TNI. Berbeda dari temuan polisi.


Satu Korban Mutilasi oleh Anggota TNI di Papua Ternyata Masih Anak di bawah Umur

4 hari lalu

Satu Korban Mutilasi oleh Anggota TNI di Papua Ternyata Masih Anak di bawah Umur

KontraS mengatakan, tuduhan aparat yang mengatakan empat korban mutilasi di Papua terlibat gerakan separatis tidak terbukti.