BNPT: JAD dan JAT Belum Tersentuh Program Deradikalisasi

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Komisaris Jenderal Polisi Suhardi Alius (dua dari kiri) dalam peluncuran buku putih pemetaan pendanaan terorisme domestik yang terafiliasi dengan ISIS di Jakarta, 27 September 2017. Tempo/Syafiul Hadi

    Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Komisaris Jenderal Polisi Suhardi Alius (dua dari kiri) dalam peluncuran buku putih pemetaan pendanaan terorisme domestik yang terafiliasi dengan ISIS di Jakarta, 27 September 2017. Tempo/Syafiul Hadi

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Suhardi Alius menyatakan kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) belum tersentuh program deradikalisasi. BNPT megatakan penyebabnya karena mereka terbatas aturan.

    Suhardi mengatakan BNPT hanya diatur untuk menyalurkan program deradikalisasi kepada orang yang berstatus narapidana terorisme. "Sepanjang dia jadi tersangka saja kami tidak bisa akses. Begitu sudah ada keputusan tetap, barulah BNPT main di situ," ujarnya di Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Jakarta, Kamis, 17 Mei 2018.

    Baca juga: Mako Brimob Rusuh, BNPT Bicara Deradikalisasi

    Di luar kategori di atas, BNPT tidak dapat bertindak. Suhardi menuturkan, meski pemerintah memiliki data soal kelompok radikal, deradikalisasi tetap tak bisa diberikan. "Kelompok JAD dan JAT belum tersentuh karena dia belum berbuat, tapi memang radikal," ujarnya.

    Keterbatasan tersebut, menurut Suhardi, menjadi landasan pentingnya revisi Undang-undang Antiterorisme. Setelah disahkan, BNPT akan mendapat wewenang untuk melakukan deradikalisasi kepada kelompok radikal meski mereka belum menyerang.

    Suhardi yakin program deradikalisasi yang sudah dilakukan BNPT selama ini berhasil. Dia menuturkan ada lebih dari 600 narapidana dan mantan narapidana terorisme yang menjalani program tersebut.

    Baca juga: 500 Penyuluh Agama di Jawa Timur Dikerahkan Tangkal Radikalisme

    Dari total tersebut, tiga orang di antaranya kembali melakukan serangan teror. Mereka dalang dari pengeboman di Thamrin, Cicendo, dan Samarinda. "Silakan masyarakat menilai. Dari 600 lebih, tiga mengulangi perbuatannya. Kalau itu sebagai kegagalan kami terima," ujar Suhardi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Palapa Ring Akan Rampung Setelah 14 Tahun

    Dicetuskan pada 2005, pembangunan serat optik Palapa Ring baru dimulai pada 2016.