Minggu, 27 Mei 2018

Divonis 5 Tahun, Ini Pesan Antonius Tonny Budiono untuk Anak Buah

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dirjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Antonius Tonny Budiono usai menjalani pemeriksaan oleh penyidik KPK. TEMPO/EKO SISWONO

    Dirjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan Antonius Tonny Budiono usai menjalani pemeriksaan oleh penyidik KPK. TEMPO/EKO SISWONO

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Direktur Jenderal Perhubungan Laut (Dirjen Hubla) Antonius Tonny Budiono yang divonis 5 tahun penjara memberi pesan kepada anak buahnya agar yang ia alami tak diulangi pegawai Kementerian Perhubungan.

    Tonny Budiono mengimbau agar bawahannya menghindari suap dan gratifikasi.

    Baca juga: Eks Dirjen Hubla Tonny Budiono Jadi Justice Collaborator

    "Ini merupakan contoh agar teman-teman saya tidak mengalami hal yang sama seperti saya," kata Tonny usai menjalani sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Kamis 17 Mei 2018.

    Hakim memvonis Tonny Budiono lima tahun penjara dan denda Rp 300 juta subsider tiga bulan kurungan dikurangi masa tahanan. Hakim menilai Tonny Budiono terbukti menerima suap dari Komisaris PT Adhiguna Keruktama yaitu Adi Putra Kurniawan sebesar Rp 2,3 miliar dan gratifikasi sekitar Rp 20 miliar.

    Pemberian tersebut berkaitan dengan pengerjaan proyek yang melibatkan Kementerian Perhubungan untuk tahun anggaran 2016 dan 2017.

    Baca juga: Eks Dirjen Hubla Tonny Budiono Tidur dengan Duit Rp 20 Miliar

    Sebagai pria berumur 60 tahun, Antonius Tonny Budiono mengatakan vonis lima tahun yang ia terima berat. "Cukup sakit. Saya orang tua, saya sudah punya cucu. Untuk hidup bersama cucu saja tidak punya kesempatan," kata dia.

    Tonny mengatakan dirinya akan tetap kooperatif untuk membantu KPK membuka fakta-fakta baru dalam kasus gratifikasi dan suap di Ditjen Hubla. "Kalau A ya A, B ya B. Saya akan konsisten," kata dia.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Dua Pendaki Mahasiswi Univesitas Parahyangan Gapai Seven Summits

    Pada 17 Mei 2018, dua mahasiswi Universitas Parahyangan, Bandung, Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari, menyelesaikan Seven Summits.