Minggu, 27 Mei 2018

Seorang Terduga Teroris Ditangkap di Cirebon

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas dengan bersenjata lengkap menjaga salah satu rumah terduga teroris seusai penggerebekan di Gempol, Tangerang, Banten, 16 Mei 2018. Rumah yang dihuni lima anggota keluarga ini sehari-harinya melayani jasa permak jins. ANTARA/Muhammad Iqbal

    Petugas dengan bersenjata lengkap menjaga salah satu rumah terduga teroris seusai penggerebekan di Gempol, Tangerang, Banten, 16 Mei 2018. Rumah yang dihuni lima anggota keluarga ini sehari-harinya melayani jasa permak jins. ANTARA/Muhammad Iqbal

    TEMPO.CO, Jakarta - Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menggerebek rumah di RT 05 RW 02 Desa Jemaras Kidul, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon, Kamis, 17 Mei 2018. Sebelumnya, seorang penjual cilok yang diduga teroris ditangkap saat tengah membeli air isi ulang di salah satu warung di daerah tersebut sekitar pukul 13.00.

    Saeti, seorang warga Jemaras Kidul yang rumahnya hanya berjarak 50 meter dari rumah kontrakan yang digerebek tim Densus 88, mengatakan terduga teroris itu telah tinggal di sana selama dua tahun.

    Baca juga: Penyerangan Polda Riau, Densus 88 Tangkap Delapan Orang di Dumai

    "Tapi selama itu mereka tidak pernah bergaul," katanya. Saeti menuturkan tetangganya itu berjualan serta selalu berangkat pagi dan pulang sore. Setelah itu, masuk ke rumah dan rumahnya langsung ditutup. "Istrinya juga sama, tidak pernah bergaul dengan tetangga di sini," ujarnya.

    Andi, warga lain, mengungkapkan rumah yang dikontrak itu dulunya juga disewa terduga teroris bernama Junaidi. Junaidi sendiri pernah ditangkap karena terkait dengan dugaan bom Thamrin. "Sampai sekarang saja kami tidak tahu namanya," ucapnya.

    Hingga berita ini diturunkan, rumah kontrakan itu masih digeledah. Polisi belum mengeluarkan pernyataan terkait dengan penggerebekan tersebut.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Dua Pendaki Mahasiswi Univesitas Parahyangan Gapai Seven Summits

    Pada 17 Mei 2018, dua mahasiswi Universitas Parahyangan, Bandung, Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari, menyelesaikan Seven Summits.