20 Tahun Reformasi: Gelagat Aneh Pertemuan Terakhir Wiji Thukul

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wiji Thukul. Dok TEMPO/ Rully Kesuma

    Wiji Thukul. Dok TEMPO/ Rully Kesuma

    TEMPO.CO, Solo - Wiji Thukul menjadi salah satu aktivis yang hilang menjelang bergulirnya reformasi pada Mei 1998. Sipon, istri Wiji Thukul, masih terkenang pertemuan terakhir dengan suaminya itu.

    Ada gelagat aneh Wiji Thukul yang masih terukir jelas di ingatan Dyah Sajirah alias Sipon, ketika mereka bertemu di Jogja. Kala itu, penyair cadel asal Solo tersebut sudah dalam masa pelarian di tengah santernya isu penculikan para aktivis prodemokrasi pada kurun 1997-1998.

    "Kayak sedang disuruh orang untuk terus tanya-tanya ke saya. Dia tanya bagaimana kalau saya ditinggalkan. Dia minta anak-anak dijaga. Nanti kalau sudah aman dia akan pulang," kata Sipon saat Tempo bertandang ke rumahnya di wilayah Kelurahan Jagalan, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, pada Selasa, 8 Mei 2018.

    Baca: 20 Tahun Reformasi, Kisah Slipi Jaya dan Dalih Pojokkan Mahasiswa

    Menurut Sipon, yang dibicarakan Wiji Thukul saat itu seperti pesanan dari sponsor. "Cara bicaranya bukan dia," ujar Sipon.

    Sipon tidak ingat secara persis kapan dan di mana lokasi pertemuan terakhirnya dengan Wiji Thukul. Menurut dia, pertemuan itu terjadi pada 1998 di sebuah tempat penginapan di Yogyakarta. Selain menanyakan beberapa pertanyaan aneh, Sipon juga memergoki sebuah handycam yang dipasang di sudut langit-langit kamar penginapan.

     
    Kamera tersembunyi dalam kondisi aktif itu sempat merekam pasangan suami istri tersebut ketika sedang memadu kasih. "Ini kejam sekali. Jadi dia mencoba harus berhubungan dengan saya tetapi difilmkan. Saya bilang, ini bukan kamu," kata Sipon. Wiji Thukul saat itu hanya terdiam, tidak memberikan jawaban atau alasan yang memuaskan.
     
    Sejak itulah Wiji Thukul mulai hilang bak ditelan bumi. Dua tahun berselang, Sipon semakin dibuat penasaran karena ada lelaki asing yang meneleponnya. Tanpa memperkenalkan diri, lelaki itu langsung menanyakan komentar Sipon tentang kasus pembantaian orangutan hingga seputar poligami. Dari suaranya yang sengau dan sesekali tersendat saat bercakap menggunakan bahasa Indonesia, Sipon menyimpulkan lelaki itu bule.
     
     
    "Lelaki itu juga menawarkan dirinya. Dia bilang punya sesuatu yang bisa membuat saya bergairah jika bertemu. Dia tahu saya istri Wiji Thukul. Dia juga tahu bagian dalam tubuh saya secara detail. Saya curiga, jangan-jangan kamu orang suruhan suamiku," kata Sipon kepada lelaki yang mengaku mendapat nomor teleponnya dari buruh di Tangerang itu.
     
    Semua percakapan yang tak masuk akal dari lelaki asing pada 2000 itu mengukuhkan dugaan Sipon bahwa Wiji Thukul masih hidup. "Kalau masih hidup berarti dia tega sekali karena tidak pulang meski tahu saya dan anak-anak sudah lama menunggu," kata Sipon.

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.