Mengapa Buya Syafii Sebut Bom di Surabaya Superbiadab?

Reporter:
Editor:

Widiarsi Agustina

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Buya Ahmad Syafii Maarif. TEMPO/Subekti

    Buya Ahmad Syafii Maarif. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif atau Buya Syafii, menggolongkan aksi bom di Surabaya dalam tindakan superbiadab.

    "Bom gereja Surabaya ini bukan biadab lagi, tapi superbiadab," ujar Buya Syafii saat ditemui di kediamannya di Sleman, Yogyakarta, Minggu, 13 Mei 2018.

    Seperti diketahui, Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian dalam penjelasannya pada Minggu lalu menyatakan polisi telah mengidentifikasi enam pelaku yang meledakkan diri di tiga gereja.

    Baca: Pelaku Bom di Surabaya Satu Keluarga, Begini Pembagian Tugasnya

    Mereka adalah satu keluarga yang diduga terkait dengan jaringan JAD yang dipimpin Dita Oepriarto. Tito menduga Dita merupakan bagian sel JAD yang ada di Surabaya. Di organisasi itu, Dita menjabat ketua. Dalam aksinya, Dita mengajak anak dan istrinya untuk melakukan bom bunuh diri. 

    Buya pun prihatin dan makin kecewa sekali ketika mendapati kabar bahwa pelaku bom bunuh diri di tiga gereja Surabaya itu ada yang dari kaum perempuan yang mengajak serta anak anaknya.

    "Perempuan berani mati ini jelas sekali karena sudah dicuci otaknya, apa pun jadi berani. Dia sudah tak peduli aksinya itu merusak," ujar Buya.

    Baca: Bom di Surabaya: Satpam Larang Perempuan Itu Masuk, lalu...

    Buya menyebutkan aksi bom Surabaya sudah sangat di luar batas kemanusiaan karena ada anak-anak yang menjadi korban tewas.

    "Karena dikatakan biadab sudah, dikutuk sudah, tapi masih terjadi teror ini, apalagi sekarang? Jangan ada lagi yang membela mereka," ujar Buya Syafii.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.