Pelaku Bom di Sidoarjo dan Bom di Surabaya Diduga Bersahabat

Reporter:
Editor:

Amri Mahbub

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi bom bunuh diri. shutterstock.com

    Ilustrasi bom bunuh diri. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Polisi menduga pelaku bom di Sidoarjo dan bom di Surabaya masih bersahabat. Dugaan tersebut muncul setelah mencocokkan identitas kedua pelaku ledakan bom tersebut.

    "Setelah kami periksa identitas pelaku di Sidoarjo, pelaku pengeboman di Surabaya dan Sidoarjo masih bersahabat," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Hubungan Masyarakat Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia Brigadir Jenderal M. Iqbal saat dihubungi, Senin dinihari, 14 Mei 2018.

    Sebelumnya, dua rangkaian ledakan bom terjadi di wilayah Jawa Timur, Ahad, 13 Mei 2018. Pada pagi hari, serangan bom bunuh diri terjadi di tiga gereja di Surabaya. Serangan bom yang dilakukan satu keluarga itu menewaskan 13 orang, termasuk enam orang pelaku.

    Baca juga: Rekaman CCTV Detik-detik Bom Gereja di Surabaya Meledak

    Lalu, pada malam harinya, beberapa ledakan bom juga terjadi di sebuah kamar di Blok B Rumah Susun Wonocolo, Sidoarjo, Jawa Timur, sekitar pukul 20.30 WIB. Iqbal dan tim kepolisian menduga ledakan bom di Sidoarjo itu tidak disengaja.

    Dia mengatakan sebenarnya bom ingin diledakkan untuk sasaran yang belum diketahui, tapi ternyata meledak di tempat tinggal pelaku. Akibat ledakan itu, seseorang yang diketahui bernama Anton serta empat anggota keluarganya menjadi korban.

    Iqbal mengatakan dua korban di antaranya, yakni istri Anton dan seorang anaknya yang masih kecil tewas di tempat. Anton sendiri yang dalam kondisi terluka terpaksa ditembak karena masih menggenggam pemicu bom rakitan. Sedangkan dua anak Anton yang terluka dirawat di rumah sakit.

    Baca juga: Bom di Surabaya, Polisi Ungkap Dugaan Motif Pelaku

    Simak kabar terbaru tentang bom Sidoarjo dan bom Surabaya hanya di Tempo.co.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.