Pemilu 2019, Pengamat: Ambang Batas 4 Persen Bunuh Diri Partai

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi logistik pemilu. dok.TEMPO

    Ilustrasi logistik pemilu. dok.TEMPO

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Perludem Titi Anggraini memprediksi ambang batas parlemen (parliamentary threshold) 2019 sebesar empat persen akan membuat pemilihan umum atau Pemilu 2019 semakin sengit. Sebab, dengan jumlah ambang batas yang naik hingga empat persen, ada partai politik baru yang memungkinkan merebut suara pemilih partai lama.

    “Suara masyarakat akan terdistribusi kepada 16 partai yang lolos verifikasi. Jadi partai di parlemen bisa saja tidak terpilih lagi,” kata Titi saat ditemui di Warung Daun Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu, 12 Mei 2018.

    Baca juga: Survei: Elektabilitas Tertinggi 5 Partai Menjelang Pemilu 2019

    Titi menjelaskan ambang batas empat persen membuat satu parpol harus mengumpulkan sebanyak lima juta suara untuk masuk ke palemen. Jumlah itu cukup besar dan akan membuat partai baru bekerja keras memuhi kuota tersebut. Adapun partai baru yang lolos di Pemilu 2019 antara lain Partai Berkarya, Partai Garuda, dan Partai Solidaritas Indonesia.

    Pada Pemilu 2019 ambang batas parlemen naik menjadi empat persen, dari yang sebelumnya di tahun 2014 hanya sebesar 3,5 persen. Lembaga Survei Indonesia (LSI) memprediksi dengan ambang batas tersebut hanya akan ada lima partai yang menduduki parlemen, yakni Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sebanyak 21,7 persen; Partai Golongan Karya (Golkar) 15,3 persen; Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) 14,7 persen; Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 6,20 persen; dan Partai Demokrat 5,8 persen.

    Baca juga: Oesman Sapta Yakin Hanura Lolos ke Parlemen pada Pemilu 2019

    Lebih lanjut, Titi menganggap ambang batas parlemen empat persen merupakan bunuh diri untuk beberapa partai di parlemen. Selain itu, dia juga memprediksi ambang batas yang tinggi dan jumlah parpol yang bertambah akan membuat banyak suara masyarakat dalam Pemilu 2019 menjadi terbuang.

    “Masyarakat sudah memilih tapi parpolnya tidak lulus ambang batas parlemen, maka suara masayarakat terbuang dan tidak terhitung,” kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.