Malam Hari Mal Masih Ramai, Jokowi Anggap Ekonomi di Riau Baik

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo disematkan disematkan Tanjak berupa ikat kepala, selempang dan kain pinggang berwarna kuning oleh tokoh adat saat berkunjung di Kelurahan Bagan Batu Kota, Kecamatan Bagan Sinembah, Kabupaten Rokan Hilir, 9 Mei 2018. Foto: Biro Pers Setpres

    Presiden Joko Widodo disematkan disematkan Tanjak berupa ikat kepala, selempang dan kain pinggang berwarna kuning oleh tokoh adat saat berkunjung di Kelurahan Bagan Batu Kota, Kecamatan Bagan Sinembah, Kabupaten Rokan Hilir, 9 Mei 2018. Foto: Biro Pers Setpres

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi menilai pergerakan ekonomi di Provinsi Riau masih baik. Ia beralasan hingga malam hari masih banyak warga yang mendatangi pusat perbelanjaan.

    "Kalau malam hari masih ramai seperti ini, geliat ekonominya sangat bagus," kata Jokowi dalam keterangan resmi Sekretariat Presiden, Rabu, 9 Mei 2018.

    Jokowi yang sejak Selasa kemarin berada di Riau menyempatkan diri berbelanja di Mal Ciputra Seraya, Pekanbaru. Kehadirannya disambut antusias oleh warga yang tengah berbelanja di sana.

    Baca: Cerita Sri Mulyani tentang Jokowi yang Sulit Dipuaskan Menterinya

    Jokowi tiba di Mal Ciputra Seraya Selasa malam sekitar pukul 20.29 WIB dan berada di sana selama satu jam. Ia datang dengan mengenakan jaket Asian Games 2018 yang pekan lalu ia pamerkan dan celana hitam.

    Kehadiran Jokowi yang ditemani Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko membuat suasana mal kian ramai. Sejumlah warga menyempatkan momen itu untuk berswafoto bersama Jokowi.

    Dalam kunjungannya ke Mal Ciputra Seraya itu, Jokowi membeli jaket sweater berwarna merah marun dan sepatu. "Buat dipakai sendiri," kata dia.

    Baca: Di Riau, Oesman Sapta Bertemu Jokowi, Bahas Cawapres 2019

    Jokowi berada di Riau untuk melakukan kunjungan kerja, salah satunya adalah meninjau peremajaan kebun sawit rakyat. Ia menjelaskan tujuan replanting untuk area-area kebun sawit milik rakyat adalah supaya produksi per hektare bisa meningkat 2 sampai 3 kali lipat.

    "Sebetulnya sudah terlambat replanting yang kami lakukan itu karena umurnya banyak yang lebih dari 25 tahun. Itu sudah gak produktif secara hitung-hitungan," tuturnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.