Perkara Suap, Mantan Hakim Tinggi Manado Dituntut 8 Tahun Penjara

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Pengadilan Tinggi Manado Sudiwardono memasuki mobil tahanan usai diperiksa di gedung KPK, Jakarta, 8 Oktober 2017 dini hari. ANTARA FOTO

    Ketua Pengadilan Tinggi Manado Sudiwardono memasuki mobil tahanan usai diperiksa di gedung KPK, Jakarta, 8 Oktober 2017 dini hari. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menuntut mantan hakim Pengadilan Tinggi Manado Sudiwardono delapan tahun penjara dan denda Rp500 juta subsider enam bulan kurungan karena menerima suap. “Menyatakan terdakwa Sudiwardono terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi,” kata jaksa KPK Ali Fikri saat membacakan tuntutan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Pusat, Selasa 9 Mei 2018.

    Jaksa menilai Sudiwardono terbukti menerima suap dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Komisi XI Aditya Moha sebesar Sin$110 ribu.

    Baca: Kasus Suap KPK Periksa Delapan Tersangka Anggota DPRD

    Menurut jaksa, Sudiwardono telah mengembalikan uang pengganti sebesar Rp361 juta dan Rp195 juta ke KPK.  

    Sudiwardono menerima suap dari Aditya dua kali agar ibu Aditya yaitu Marlina Moha, Bupati Bolaang Mongondow, Sumatera Utara tidak ditahan dalam perkara tingkat banding. Pertama, menerima uang Sin$80 ribu di rumahnya. Kedua, Sudiwardono menerima suap sebesar Sin$30 ribu dan fasilitas kamar Hotel Alila, Jakarta Pusat dari Aditya agar Marlina diputus bebas. 

    Tuntutan jaksa lebih berat kepada Sudiwardono dibandingkan Aditya yang juga dituntut hari ini. Jaksa KPK menuntut Aditya enam tahun penjara dan denda Rp200 juta subsider 2 bulan kurungan.

    Seusai sidang, jaksa KPK Asri Irwan menjelaskan alasan tuntutan yang lebih berat kepada Sudiwardono. Asri mengatakan Sudiwardono yang pertama kali meminta Aditya agar memberikan uang suap. Sudiwardono juga yang mengatur jumlah uang yang harus disetorkan Aditya. “Semua permintaan uang itu dari Sudiwardono,” kata Asri. Sudiwardono juga meminta agar Aditya memesan kamar Hotel Alila, Jakarta Pusat untuk penyerahan uang suap.

    Baca: KPK Periksa Bupati Mojokerto Mustafa Kamal Pasa Tersangka Suap ...

    Asri menjelaskan, awalnya Sudiwardono meminta uang Sin$120 ribu kepada Aditya namun hanya menerima Sin$110 ribu. Pasalnya ketika digeledah KPK saat berada di Hotel Alila, Jakarta Pusat, Oktober 2017 lalu, sisa uang Sin$10 ribu yang akan diberikan ke Sudiwardono masih berada di mobil Aditya.  

    Tuntutan juga lebih berat karena Sudiwardono hakim yang seharusnya menegakkan hukum, bukan sebaliknya. Sudiwardono tidak mendukung  mewujudkan pemerintah yang bersih dari korupsi. Hakim tinggi itu juga dianggap mencoreng nama baik peradilan.

    Meskipun begitu, Jaksa KPK mengatakan Sudiwardono berterus terang di persidangan. Sudiwardono juga mengakui dan menyesali perbuatannya menerima suap serta belum pernah dihukum. Faktor-faktor itu meringankan tuntutan jaksa. Sudiwardono enggan berkomentar banyak. Ia mengatakan akan menyampaikan keberatannya di agenda pembelaan nanti. “Nanti kita lihat di sidang selanjutnya,” kata Sudiwardono sambil meninggalkan ruang sidang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wiranto Ditusuk Seseorang yang Diduga Terpapar Radikalisme ISIS

    Menkopolhukam, Wiranto ditusuk oleh orang tak dikenal yang diduga terpapar paham radikalisme ISIS. Bagaimana latar belakang pelakunya?