GP Ansor Tak Setuju Ustad Khalid Ceramah di Masjid Hasyim Asyari

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas. yaqut-cholil.com

    Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas. yaqut-cholil.com

    TEMPO.CO, Jakarta – Ketua Gerakan Pemuda Anshor (GP Ansor) Yaqut Cholil Quomas menjelaskan penolakan adanya pelibatan pendakwah Khalid Basalamah untuk memberikan siraman rohani dalam acara tabligh akbar yang akan digelar di Masjid Raya Hasyim Asyari, Jakarta.

    “Kami menolak permohonan tempat untuk dakwah Khalid Basalamah,” kata Yaqut saat dihubungi Tempo pada Ahad, 6 Mei 2018.

    Khalid Basalamah direncanakan memberikan siraman rohani untuk tabligh akbar yang digagas Tim Kajian Ilmiah Pegawai Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta pada Ahad, 13 Mei mendatang. Kegiatan tabligh akbar digelar untuk menyambut Ramadan 1439 H.

    Baca: GP Ansor Minta Pemerintah Antisipasi Konflik Akibat Pilpres

    Yaqut melihat ceramah yang dilakukan Khalid Basalamah sering kali menyinggung amaliah yang dilakukan warga Nahdlatul Ulama. Sedangkan, Masjid Raya Hasyim Asyari dibangun sebagai bagian dari penghormatan tokoh pendiri Nahdlatul Ulama Hasyim Asyari, yang pengikutnya sering dibid'ahkan.

    Bid'ah adalah perbuatan yang dikerjakan tidak menurut contoh yang sudah ditetapkan, termasuk menambah atau mengurangi ketetapan yang dilakukan Nabi Muhammad SAW.

    Menurut Yaqut, Anshor tidak melarang Khalid Basalamah untuk berceramah di tempat ibadah mana pun, selain di Masjid Hasyim Asyari. “Ini seperti ada yang mau memancing persoalan saja," kata dia.

    Baca: Soal Insiden Intimidasi di CFD, GP Ansor: Tidak Beradab

    Sejak awal, kata Yaqut, dirinya telah meminta agar pengurus dewan kemakmuran masjid menolak permohonan penyelenggara tabligh akbar yang mendatangkan Khalid Basalamah. Menurut dia, masih banyak masjid lain untuk dijadikan tempat berceramah Khalid Basalamah. “Kami menghargai perbedaan. Namun, jangan sampai Khalid Basalamah ceramah di tempat pendiri NU, yang pengikutnya sering dibid’ahkan," ujarnya.

    Adapun amaliah warga NU yang kerap dibid’ahkan seperti selamatan, ziarah kubur, mencium tangan kiai, minum air bekas kiai, dan lainnya. “Padahal ini diyakini oleh warga NU sebagai amaliah yang lumrah. Dan dia mengharamkan. Dakwah, dakwah saja, tapi jangan menjelekan kelompok yang tidak sepaham. Mau dia wahabi, salafi, asalkan dakwahnya santun kami akan terima,” ujarnya.

    Baca: Saat Topik Cawapres Jokowi Jadi Bahan Kelakar di Harlah GP Ansor


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.