Mardani Ali Sera Minta Maaf Soal Intimidasi di CFD

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bakal calon wakil Gubernur DKI Jakarta, Mardani Ali Sera. Mardani adalah kader Partai Keadilan Sejahtera. Tempo/Rezki Alvionitasari.

    Bakal calon wakil Gubernur DKI Jakarta, Mardani Ali Sera. Mardani adalah kader Partai Keadilan Sejahtera. Tempo/Rezki Alvionitasari.

    TEMPO.CO, Jakarta - Penggagas #2019GantiPresiden, Mardani Ali Sera, meminta maaf atas insiden intimidasi yang terjadi saat car free day atau CFD beberapa waktu lalu.

    "Kejadian kemarin menjadi pelajaran bagi kami bersama. Kami tidak terlibat, tapi itu mungkin bagian dari relawan kami, kami mohon maaf," kata Mardani setelah berorasi dalam acara deklarasi #2019GantiPresiden di depan pintu barat daya Monumen Nasional, Jakarta, Ahad, 6 Mei 2018.

    Baca: Intimidasi di CFD, Mendagri: Berpolitik Harus Pakai Etika

    Mardani mengatakan siap berdampingan dalam acara kawan-kawan relawan Presiden Joko Widodo. "Karena kita bersaudara, semua punya hak seperti kami punya hak. Kami tak punya masalah," katanya.

    Pada Ahad, 29 April 2018, dalam sebuah video yang viral di media sosial, sekelompok orang berkaus #2019GantiPresiden mengintimidasi beberapa orang lain yang memakai kaus #DiaSibukKerja saat CFD di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. Video berdurasi dua setengah menit itu diunggah akun YouTube Jakartanicus.

    Baca: #2019GantiPresiden, Sandiaga: Pergub Batasan CFD Terbit Era Ahok

    Dalam video, seorang lelaki berkaus putih bertuliskan #DiaSibukKerja berjalan sambil disoraki kerumunan berkaus #2019GantiPresiden. Kerumunan tersebut mengipasi lelaki itu dengan duit pecahan Rp 100 ribu, dan mendesaknya mengaku telah dibayar supaya mau ikut gerakan #DiaSibukKerja. Selain terhadap lelaki itu, intimidasi serupa dialami seorang ibu dan anak lelakinya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.