Buntut Ricuh Demo Tolak Bandara NYIA, Akun Ini Dirisak Netizen

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sekelompok massa membakar kantor polisi di pertigaan UIN Sunan Kalijaga Yogya dalam unjuk rasa menolak bandara baru, 1 Mei 2018. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    Sekelompok massa membakar kantor polisi di pertigaan UIN Sunan Kalijaga Yogya dalam unjuk rasa menolak bandara baru, 1 Mei 2018. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Jakarta - Akun Instagram @Jogja_Darurat_Agraria yang selama ini gencar menyuarakan penolakan pembangunan Bandara NYIA atau New Yogyakarta International Airport dirisak oleh netizen.

    Akun ini diketahui kerap mengunggah foto maupun video yang menolak pembangunan NYIA. Akun ini juga mengunggah video saat demo yang berujung rusuh terjadi di persimpangan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta pada Selasa, 1 Mei 2018 lalu.

    Video tersebut menampilkan momen saat demo mulai rusuh dan polisi mulai membubarkan para pendemo. Unggahan tersebut memiliki keterangan: “Panggilan Solidaritas, 17.45 saat ini aparat kepolisian dan preman melakukan sweeping terhadap kawan-kawan massa aksi #Mayday2018 di kampus UIN Kalijaga. Berapa dipukul dan ditangkap polisi. Mohon dukungan.”

    Baca juga: Demo Tolak Bandara NYIA Ricuh, Polisi Buru Penyokong Dana

    Video itu mendapat 87.193 respon suka dan 726 komentar. Namun, kebanyakan komentar yang ditulis bernada negatif.

    Akun @dimitriybima melalui komentarnya membantah bahwa yang mengusir pendemo adalah preman. Dia mengatakan yang mengusir adalah warga yang kesal karena ulah rusuh pendemo. Dia mengaku bagian dari warga yang bersama polisi menghalau unjuk rasa itu. “Saya salah satu warga yang bersatu bersama polisi menghalau..,” kata dia dalam komentarnya.

    Sementara akun lainnya @asta_yuda mengaku kecewa dengan kerusuhan yang telah ditimbulkan para demonstran. Dia berharap, sebagian besar pendemo yang diduga mahasiswa itu dapat menciptakan Yogya sebagai kota yang aman untuk menuntut ilmu. “Jangan bikin rusuh Jogja dong. Ciptakan Jogja tempat nyaman untuk menuntut ilmu, gunakan otak buat berdiskusi, jangan otot kalian yang dipakai,” kata dia.

    Sebagian warganet lainnya, mengaku awalnya mendukung penolakan proyek Bandara NYIA yang disuarakan akun ini, tapi berubah kecewa karena aksi rusuh kemarin. “Saya mendukung akun ini karena bentuk keberpihakan, tapi cara seperti ini kurang baik min,” kata dia.

    “Saya dulu respect sama akunmu ini mas, tapi setelah kamu update video itu dan minta dukungan, itu sebuah kekeliruan,” kata akun @wieratam4.

    Baca juga: Tersangka Demo Ricuh Bandara NYIA Bertambah Jadi 12 Orang

    Ada pula warganet yang bingung dengan aksi yang para pendemo lakukan. Angkasa_liem76 mengatakan demo tersebut berlangsung untuk memperingati Hari Buruh Sedunia atau Mayday, tapi kenapa yang ditolak justru pembangunan bandara. “Mayday itu hari buruh, kok demo mahasiswa masalahnya bandara. Meleset tahu,” kata dia.

    Sementara sebagian lainnya menganggap, tulisan ancaman terhadap Sultan Yogyakarta dinilai keterlaluan. “Tulisan bunuh sultan adalah sangat menyakiti hati rakyat Jogja,” kata akun @suryaardianggara.

    Unjuk rasa di Yogyakarta pada 1 Mei yang lalu dilakukan ratusan massa Gerakan Aliansi Mahasiswa 1 Mei (Geram). Mereka memblokade lalu lintas jalan Solo-Yogyakarta sejak pukul 15.00. Massa kemudian membakar dan merusak pos polisi yang ada di persimpangan. Massa yang umumnya mahasiswa itu juga merusak berbagai fasilitas rambu jalan, mematahkannya, lalu membuangnya ke tengah jalan.

    Massa juga mencoba melemparkan bom molotov ke arah toko waralaba KFC dan toko telepon seluler di pertigaan. Aksi itu membuat warga kampung Papringan, Kelurahan Catur Tunggal, Depok, Sleman, yang ada di belakang pertokoan itu, mulai keluar. Warga marah karena takut terimbas unjuk rasa itu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.