Setara Institute Sebut Demo Ricuh di Yogya Akibat Provokasi

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sekelompok massa membakar kantor polisi di pertigaan UIN Sunan Kalijaga Yogya dalam unjuk rasa menolak bandara baru, 1 Mei 2018. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    Sekelompok massa membakar kantor polisi di pertigaan UIN Sunan Kalijaga Yogya dalam unjuk rasa menolak bandara baru, 1 Mei 2018. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Setara Institute Hendardi berpendapat aksi ricuh yang terjadi pada peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day di Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin, 1 Mei lalu berkaitan dengan pilpres 2019. Ia menduga ada pihak tertentu yang menyusup sebagai massa aksi untuk menimbulkan kekacauan.

    "Bahwa menjelang perhelatan elektoral, khususnya pilpres 2019, ada pihak-pihak yang coba merepetisi pola lama yaitu memancing situasi chaos dan menebar ketakutan di tengah masyarakat," kata Hendardi dalam keterangan tertulisnya pada Jumat, 4 Mei 2018.

    Baca: Cerita Orang Bertopeng di Unjuk Rasa Mahasiswa Yogyakarta

    Aksi yang digelar di persimpangan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogya itu berubah menjadi kericuhan antara warga dan pendemo. Terjadi pembakaran pos polisi dan ditemukan tulisan penghinaan terhadap Sri Sultan Hamengkubuwono X berupa "Bunuh Sultan" di tembok-tembok.

    Hendardi meyakini narasi "Bunuh Sultan" yang diangkat dalam demo tersebut bukan datang dari aspirasi mahasiswa atau buruh sebagai pendemo. Ia menyebut narasi itu sebagai provokasi brutal yang sangat berlebihan.

    "Dengan cara itu, kelompok yang kekuatan dan pengaruh riilnya kecil tersebut berharap, rasionalitas politik para pemilih dalam menggunakan hak pilihnya dapat ditekan sedemikian rupa," kata Hendardi.

    Baca: Mahasiswa dan Tukang Sablon Jadi Tersangka Demo Ricuh di Yogya

    Atas aksi yang berakhir ricuh itu, kepolisian telah menetapkan 12 orang tersangka yang sebagian besar adalah mahasiswa. Mereka dianggap terlibat dalam aksi perusakan pos polisi dan rambu lalu lintas di lokasi. Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta pun masih menyelidiki kasus ini. "Kami tidak mengenal dalang, tapi kami akan telusuri siapa yang membiayai aksi ini," ujar Direktur Reserse dan Kriminal Umum Polda DIY Komisaris Besar Polisi Hadi Utomo.

    Mahasiswa yang terlibat dalam aksi itu membantah melakukan aksi pembakaran pos polisi dan coretan bernada mengancam yang ditujukan kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X. “Kami disusupi orang-orang bertopeng yang membakar pos polisi,” kata Hayyan, seorang peserta aksi Aliansi Gerakan 1 Mei ketika dihubungi, Rabu, 3 Mei 2018.

    Senada dengan Hayyan, Ketua Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia DIY, Faizi Zain pun menduga ada pihak yang menunggangi aksi peringatan hari buruh itu. “Kami menduga kuat ada kelompok tertentu yang sengaja menunggangi aksi kami memperingati hari buruh hingga berujung rusuh,” kata dia.

    Baca: Mahasiswa Terlibat Demo Rusuh, UIN Yogya Tunggu Penyidikan Polisi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.