Selasa, 11 Desember 2018

Rizal Ramli: Sukarno dan Hatta pun Keok Ikut Politik Kekinian

Reporter:
Editor:

Purwanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Partai Gerinda Prabowo Subianto batal menjadi inspektur upacara kemerdekaan di Universitas Bung Karno, 17 Agustus 2017. Prabowo datang sebagai tamu undangan bersama Amien Rais dan Rizal Ramli. TEMPO/Maria Fransisca

    Ketua Umum Partai Gerinda Prabowo Subianto batal menjadi inspektur upacara kemerdekaan di Universitas Bung Karno, 17 Agustus 2017. Prabowo datang sebagai tamu undangan bersama Amien Rais dan Rizal Ramli. TEMPO/Maria Fransisca

    TEMPO.CO, Jakarta -Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman era pemerintahan Abdurahman Wahid, Rizal Ramli pesimistis kompetisi politik yang berlangsung sekarang ini bisa memunculkan tokoh yang memiliki gagasan cemerlang. Tokoh-tokoh politik yang memiliki gagasan mendorong kemerdekaan dan upaya setelah Indonesia merdeka seperti Sukarno, M. Hatta, Syahrir, dan Agus Salim, dia yakini tak akan menang dalam kompetisi politik masa kini.

    “Kompetisi politik di Indonesia modalnya hanya pencitraan,” kata Rizal Ramli seusai perbicangan selama sekitar setengah jam dengan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Zulkifli Hasan di Senayan, Jakarta, Kamis, 3 Mei 2018.  

    "Seandainya Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir, dan Agus Salim ikut kompetisi politik hari ini, saya jamin mereka kalah karena tidak bisa pencitraan."

    Jika mengandalkan pencitraan saja dalam suatu kompetisi politik, kata Rizal Ramli, Indonesia akan kesulitan menjadi bangsa besar.  Karena itu, Rizal Ramli menyarankan kompetisi politik diubah. Dan, dia akan ikut berkompetisi untuk mengubah situasi. "Dengan kami ikut kompetisi ini, kami ubah permainan,” kata Rizal Ramli. “Bukan lagi kompetisi soal pencitraan tapi karakter dan track record."

    Rizal Ramli optimistis bisa mengubah keadaan. Ia menganggap dirinya berpengalaman sebagai game changer atau pengubah permainan sejak kecil. "Itulah kenapa saya dari muda selalu menjadi game changer, untuk mengubah," kata dia.

    Tapi Rizal Ramli enggan mengomentari maksud partisipasi dalam kompetisi mengubah keadaan yang ia katakana itu. Ia juga tak menjelaskan ada tidaknya kaitan antara game changer dan upayanya untuk ikut dalam bursa calon dalam pemilihan presiden dan wakil presiden 2019.

    Rizal Ramli menekankan solidnya persatuan masyarakat di tengah kompetisi politik yang didasarkan gagasan. Politik pencitraan, menurut dia, hanya memainkan emosi masyarakat sehingga mudah terpecah belah.

    Rizal Ramli bertemu dan berbincang dengan Ketua MPR Zulkifli Hasan selama sekitar setengah jam di Senayan pada Kamis, 3 Mei 2018.  Ketua MPR Zulkifli Hasan mengatakan pertemuannya tersebut sebagai ajang tukar pikiran. Menurut Zulkifli, gagasan Rizal penting didengarkan untuk mendorong kontestasi politik berkualitas dan tidak mengoyak persatuan.

    VINDRY FLORENTIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peringkat Indonesia dalam Indeks Persepsi Korupsi 1995 - 2017

    Sejak kehadiran KPK pada 2002, skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia hingga 2017 menanjak 18 poin yang berarti ada di peringkat 96 dari 180 negara.