Pengukuran Lahan Ricuh, Warga NTT Tewas Kena Tembakan Polisi

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi penembakan. timeout.com

    Ilustrasi penembakan. timeout.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Seorang warga Sumba Barat bernama Poroduka, 40 tahun, diduga tewas karena ditembak polisi saat mempertahankan lahan di pesisir Marosi, Desa Patiala Bawah, Kecamatan Lamboya, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, pada Rabu, 25 April 2018.

    Direktur Wahana Lingkungan Hidup Nusa Tenggara Timur Umbu Wulung mengatakan korban tewas ditembak saat proses pengukuran lahan sekitar 200 hektare oleh Badan Pertanahan Nasional Sumba Barat dengan PT Sutera Morosi di wilayah pesisir tersebut.

    “Perusahaan dan BPN memaksa kehendak untuk melakukan pengukuran padahal proses mediasi belum mendapatkan titik temu,” kata Umbu saat dihubungi Tempo pada Jumat, 27 April 2018.

    Baca: Polisi Tahan Penghina Nabi Muhammad Asal Sidoarjo

    Rencananya, kawasan di pesisir Marosi akan dijadikan lokasi pariwisata. Bahkan kawasan tersebut menjadi prioritas pembangunan nasional untuk pengembangan usaha di sektor pariwisata dengan target menyumbang produk domestik bruto 5,5 persen dan devisa Rp 233 triliun. Warga menolak pengukuran tersebut karena menganggap tanah tersebut lahan telantar dan perusahaan tidak memiliki legalitas yang jelas.

    Saat pengukuran lahan tersebut, perusahaan dan BPN meminta pengawalan polisi. Saat itu, terlihat puluhan personel polisi berseragam lengkap dengan senjata menjaga proses pengukuran  itu.

    Menurut Umbu, perusahaan menggunakan polisi untuk menakut-nakuti warga. “Itu terlihat dari persiapan peralatan kepolisian yang lengkap, seolah sudah tahu akan terjadi bentrok,” ujarnya.

    Baca: Operasi Patuh 2018, Ini Pelanggaran yang Jadi Target Polisi

    Seharusnya, kata Umbu, polisi bisa menghindari kejadian tersebut dengan mundur kalau memang ada pelemparan dari warga. "Toh, proses mediasi masih berlangsung."

    Pihaknya pun menyayangkan kepolisian yang mau mengabulkan permintaan dari perusahaan untuk pengamanan pengukuran tanah yang jelas masih terjadi sengketa dengan warga dan proses mediasi tidak diprioritaskan.

    Menurut Umbu, polisi marah karena warga mengambil foto dan merekam aktivitas tersebut. Untuk mencegah tindakan warga, polisi mencoba merampas handphone dan melakukan pemukulan. Melihat ada tindakan kekerasan dari polisi, warga bergerombol datang ke lokasi dan seketika polisi langsung menembakkan pelurunya ke arah warga.

    “Saat itu kejadiannya jam satu siang," kata Umbu. Selain Poroduka, warga bernama Matiduka terkena tembakan di kedua kakinya.

    Ia pun menyebut lebih dari 10 orang mengalami tindakan kekerasan dari aparat Polres Sumba Barat. “Bahkan satu korban kekerasan di antaranya seorang anak SMP," ujarnya.

    Walhi, kata dia, mengutuk keras tindakan polisi terhadap warga. Walhi pun meminta polisi mengusut tuntas kasus penembakan yang menyebabkan satu warga tewas itu. “Segera tangkap dan adili pelaku penembakan dan pemukulan warga pesisir Pantai Marosi,” katanya.

    Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto mengatakan belum mengetahui kejadian tersebut. “Saya periksa dulu."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.