Mahasiswa Ambon Sepakat Bentuk Komunitas Anti Hoax

Reporter:
Editor:

Istiqomatul Hayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Penyebaran Hoax di Facebook. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration

    Ilustrasi Penyebaran Hoax di Facebook. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration

    Tak ingin kerusuhan terulang lagi, sekitar 300 mahasiswa Ambon bersepakat membentuk Komunitas Anti Hoax. Kesepakatan ini merupakan hasil program Tempo Goes To Campus di Aula Rektorat Universitas Pattimura pada Jumat, 27 April 2018. "Kami ingin membentuk komunitas anti hoax yang bekerja melalui berbagai media sosial seperti Whatsapp, Facebook, Instagram, dan Twitter," kata Mark Ufi, mahasiswa Teknik Sipil Universitas Pattimura di Ambon, Jumat, 27 April 2018. 

    Mark yang juga dinobatkan menjadi Duta Anti Hoax dalam Tempo Goes To Campus 2018 mengatakan, akan memobilisasi teman-temannya untuk melakukan pengecekan fakta. Ia dan komunitasnya akan berjejaring dengan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) yang telah memiliki aplikasi cara menangkal hoax. 

    Program Tempo Goes To Campus ini menggunakan tagar #LawanKabarKibul. Ketua Panitia Tempo Goes To Campus,  Sherlina Eoudia menjelaskan, acara Tempo Goes To Campus ini diadakan oleh Tempo Institute yang bernaung di bawah Tempo Media Group. Karena itu, kata dia, Tempo Goes To Campus ini adalah cara Tempo membuka rahasia dapurnya kepada mahasiswa di sebelas kota di Indonesia, yakni Cilegon, Manado, Palu, Halmahera, Ambon, Bandung, Aceh, Batam, Pontianak, Makassar, dan Cimahi.

    “Mahasiswa belajar bagaimana cara menangkal hoax dari sisi jurnalistik, internet sehat, dan bagaimana menggunakan tools cek dan fakta,” kata Sherlina. Selain mendapatkan cara menangkal hoax dari sisi jurnalistik, para mahasiswa ini juga mendapatkan pemahaman bagaimana internet sehat oleh Siberkreasi Kominfo, serta bagaimana menggunakan aplikasi cek dan fakta oleh Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia).

    “Pengaplikasian riil dari acara ini adanya literasi digital di sebelas kota atau kami sebut dengan Duta Anti-Hoax yang akan melakukan program lawan kabar kibul dan diakhiri dengan mempresentasikan hasil kerjanya bersama tim pada rangkaian Tempo Media Week 2018 di Jakarta,” ujar Sherlina.

    Wali Kota Ambon, Richard Louhenapessy meminta mahasiswa menjadi pilar utama dalam melawan kabar kibul. “Lewat acara Tempo Goes To Campus, saya berharap mahasiswa menjadi promotor bagi para pelajar, generasi muda bangsa untuk memahami informasi secara baik dan benar sebelum diteruskan kepada pihak lain, serta mampu mengendalikan diri untuk tidak menyatakan ujaran kebencian, berita kibul atau hoax baik secara lisan ataupun lewat media sosial,” katanya saat membuka acara Tempo Goes To Campus.

    Menurut Richard, 19 tahun lalu, Kota Ambon mengalami konflik sosial yang menyedihkan. Saat itu, kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan aparat keamanan tak ada. Akar persoalan yang memicu konflik itu hingga saat ini sulit ditelusuri. “Ibarat benang kusut, sulit sekali dikendalikan karena peran provokator dengan berbagai isu yang provokatif,” ujarnya. “Setelah konflik berlalu, kita baru menyadari bahwa hoaxlah yang telah meluluhlantakkan sendi-sendi kehidupan masyarakat.”

    Karena itu, kata Richard, pemerintah Kota Ambon melihat kegiatan Tempo Goes To Campus adalah salah satu program penting untuk memberikan pencerahan kepada generasi muda bangsa agar dapat memposisikan diri dan mampu membedakan manakah fakta dan mana berita kibul. “Rata-rata kabar kibul atau hoax justru lebih banyak disebarkan oleh kalangan berpendidikan karena merekalah yang menguasai teknologi dan lebih cepat mengakses sumber-sumber informasi,” ujarnya.

    Semuel Toding dari Siberkreasi Ambon dan Paparisa Ambon Bergerak mengatakan literasi digital adalah salah satu kegiatan untuk meminimalisasi berita-berita hoax yang marak terjadi di media sosial terutama di Kota Ambon. “Di Ambon Bergerak, kami juga membuat grup khusus bernama Filter Informasi di Facebook yang bertugas mengklarifikasi informasi yang berkaitan dengan isu SARA dan beredar di masyarakat,” kata Semuel.

    Direktur Tempo Institute, Mardiyah Chamim mengatakan, revolusi digital memiliki wajah buruk. Tak sedikit informasi palsu maupun ujaran kebencian menyebar di berbagai platform media sosial. Laporan Kementerian Komunikasi dan Informatika menyebutkan, pada tahun lalu, ada sekitar 800 ribu situs penyebar berita palsu dan ujaran kebencian.

    “Kegiatan ini diadakan agar mahasiswa terlatih menulis kreatif berdasarkan fakta dan cerdas bermedia sosial,” kata Mardiyah. Ia menuturkan, Tempo Goes To Campus ini dirancang agar mahasiswa memahami kerja-kerja jurnalistik yang berkualitas dan bersama-sama melawan kabar kibul. “Masyarakat dituntut untuk cerdas bermedia sosial, termasuk bagaimana menyaring berita sesuai fakta,” ujarnya.

    Dalam acara ini, para jurnalis Tempo akan memaparkan cara kerja mereka dan membongkar rahasia dapur mereka. Mahasiswa akan memahami bagaimana Tempo mengumpulkan hasil pembuktiannya di lapangan dan menyatukan mozaik liputan menjadi sebuah cerita yang runut dan mudah dipahami masyarakat.

    “Output dari acara ini, kami berharap bisa memotivasi mahasiswa untuk membaca dan menulis , dapat membuat konten tulisan yang informatif dan akurat, ikut berperan dalam mewujudkan masyarakat cerdas melek berita hoax agar dapat terhindar dari kabar kibul, dan peduli pada isu yang terjadi di sekitar maupun global,” kata Mardiyah.

    Acara Tempo Goes To Campus di Ambon ini tak lepas dari dukungan pemerintah Kota Ambon, Kampus Universitas Pattimura, Wanita Penulis Indonesia (WPI), dan Paparisa Ambon Bergerak.



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.