Begini Kronologi Pertemuan PA 212 dengan Jokowi

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi), Usamah Hisyam, didampingi tim kuasa hukum, menunjukkan surat gugatan yang sudah didaftarkan di PTUN Jakarta, 20 Februari 2017. Tempo/Benedicta Alvinta

    Ketua Umum Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi), Usamah Hisyam, didampingi tim kuasa hukum, menunjukkan surat gugatan yang sudah didaftarkan di PTUN Jakarta, 20 Februari 2017. Tempo/Benedicta Alvinta

    TEMPO.CO, Jakarta - Pertemuan Persaudaraan Alumni atau PA 212 dengan Presiden Joko Widodo atau Jokowi viral di media sosial. Pertemuan ini mengagetkan karena selama ini Alumni 212 kerap melontarkan kritik pada Jokowi.

    PA 212 buru-buru mengadakan jumpa pers untuk menjelaskan maksud pertemuan mereka dengan Presiden Jokowi yang terjadi di Istana Bogor pada Ahad, 22 April 2018 lalu. Menurut Usamah Hisyam yang hadir dalam pertemuan itu, rencana ini sebetulnya sudah ada sejak adanya kabar kepulangan Pemimpin Front Pembela Islan (FPI) Rizieq Shihab pada 21 Februari 2018 lalu.

    "Namun saat itu presiden belum ada waktu untuk bertemu dengan ulama," ujarnya di Jakarta, Rabu 25 April 2018.

    Baca juga: PA 212 Minta Ketemu Jokowi Sejak Rencana Kepulangan Rizieq Shihab

    Usamah mengaku diamanatkan menghubungi pihak Istana untuk merancang pertemuan PA 212 dengan Jokowi. Namun, baru 11 April lalu dia dihubungi oleh istana untuk membicarakan pertemuan tersebut kembali.

    Usamah menyebutkan setelah itu dia langsung bertemu dengan Presiden Jokowi untuk membicarakan materi pertemuan. "Saya sampaikan materinya tentang kriminalisasi ulama. Lalu presiden minta waktu untuk mendiskusikan terlebih dahulu dengan timnya," katanya.

    Malam harinya, Usamah dihubungi kembali oleh Istana bahwa Presiden Jokowi bersedia untuk bertemu dengan PA 212 pada 22 April. Pertemuan dimulai dengan Salat Zuhur berjamaah dilanjutkan makan siang bersama dari pukul 12.00 - 14.30 WIB di Istana Negara Bogor.

    Dalam pertemuan tersebut PA 212 diwakili oleh Tim 11 Ulama Alumni 212. Misbahul Anam, selaku ketua menyebutkan pertemuan tersebut bersifat tertutup dan rahasia dan tidak dipublikasikan. "Saat itu handphone kami tidak boleh dibawa masuk," ujarnya.

    Misbahul menambahkan, dalam pertemuan itu membahas tentang kriminalisasi terhadap ulama. Dalam kesempatan itu Tim 11 memberikan informasi yang lebih akurat untuk Presiden Jokowi.

    Selain itu, lanjut Misbahul, Tim 11 juga mendesak Presiden segera menghentikan kriminalisasi kepada ulama. "Dulu presiden menyebutkan tidak akan ada kriminalisasi terhadap ulama, namun fakta-faktanya kami menemukan masih ada," ujarnya.

    Misbahul membantah adanya pembahasan politik dalam pertemuan Tim 11 dengan Presiden Joko Widodo di Istana Negara 22 April lalu."Tidak ada pembahasan politik," ujarnya di Jakarta, Rabu 25 April 2018.

    Adapun Jokowi mengatakan pertemuan dirinya dengan ulama dari PA 212 di Bogor, pekan lalu, adalah hal yang biasa. Menurut dia, sebelum acara itu, dirinya sering mengadakan pertemuan dengan ulama dari manapun.

    Baca juga: Rizieq Shihab Batal Pulang, PA 212 Dituntut Minta Maaf

    "Saya hampir setiap hari, setiap minggu ke pondok pesantren, bertemu ulama, undang ulama ke Istana," katanya di sela acara pelepasan ekspor perdana Mitsubishi Expander di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu, 25 April 2018.

    Jokowi berujar pertemuan-pertemuan itu semata-mata untuk menjalin silaturahmi antara umara dan ulama. "Dalam rangka, ya menjaga persatuan, persaudaraan, ukhuwah di antara kita," kata dia.

    Ia berharap dengan adanya pertemuan antara pemerintah dan ulama itu bisa menyelesaikan banyak masalah yang ada di tengah umat. "Secara garis besar arah pembicaraannya ada di situ," tutur Jokowi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.