Peneliti: Tambak Udang Perusak Mangrove Paling Besar

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Alat berat dioperasikan untuk membersihkan sampah di kawasan Hutan Mangrove, Muara Angke, Jakarta, 20 Maret 2018.  ANTARA/Sigid Kurniawan

    Alat berat dioperasikan untuk membersihkan sampah di kawasan Hutan Mangrove, Muara Angke, Jakarta, 20 Maret 2018. ANTARA/Sigid Kurniawan

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Laju kerusakan hutan mangrove di Indonesia sangat tinggi sehingga menghambat mitigasi perubahan iklim.

    Direktur Konservasi Tanah dan Air Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Muhammad Firman mengatakan, Indonesia kehilangan 52 ribu hektare mangrove per tahun.

    Angka itu setara dengan luas tiga lapangan sepakbola per minggu.

    “Penyebab paling signifikan adalah konversi lahan pertanian, tambak, dan infrastruktur,” kata Firman dalam sesi pararel pembahasan mangrove dan karbon biru di Konferensi Tingkat Tinggi Hutan Hujan Asia Pasifik di Yogyakarta, Selasa, 24 April 2018.

    Konferensi itu berlangsung pada 23-25 April.

    BacaSampah Mangrove Muara Angke Didominasi Bungkus Plastik Mi

    Firman menjelaskan, penyebab lainnya adalah polusi sampah dan bahan kimia, penebangan liar, eksploitasi mangrove, dan abrasi. Indonesia punya hutan mangrove seluas 3,49 juta hektare.

    Dari total luasan itu 1,67 juta hektare dalam kondisi baik dan 1,82 juta hektare terdegradasi.

    Laju kerusakan mangrove yang tinggi membuat pemerintah mengeluarkan aturan untuk merestorasi dan merehabilitasi hutan mangrove. Langkah strategisnya adalah meminimalisasi konversi mangrove, mempromosikan fungsi keanekaragaman hayati dan melindungi kawasan pesisir.

    Peneliti Pengembangan dan Inovasi Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup, Virni Budi Arifanti, mengatakan bahwa laju deforestasi mangrove Indonesia paling cepat di dunia.

    Penyebab terbesarnya adalah massifnya pembuatan tambak udang.

    Budi pernah meneliti penggunaan tambak udang di Delta Mahakam, Kalimantan Timur, pada 2013-2015. Ia mengambil sampel 10 tambak udang untuk menghitung kerusakan mangrove akibat konversi menjadi tambak udang.

    Tanah bekas tanaman mangrove yang ditebang mengalami dekomposisi yang cepat sehingga tidak subur lagi bila ditanami tanaman itu.

    Ia pun menghitung secara kasar waktu yang diperlukan untuk memulihkan keseluruhan mangrove yang rusak. “Setidaknya perlu waktu 226 tahun untuk memulihkan kembali seperti semula.”


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.