Paniknya Warga Yogyakarta Saat Angin Puting Beliung Menerjang

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bencana puting beliung di kawasan Kota Yogyakarta. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    Bencana puting beliung di kawasan Kota Yogyakarta. TEMPO/Pribadi Wicaksono

    TEMPO.CO, Jakarta - Warga Yogyakarta dikagetkan dengan fenomena angin puting beliung, yang terjadi Selasa siang, 24 April 2018.

    Kejadian yang berlangsung sekitar pukul 14.05 itu menimbulkan sejumlah kerusakan bangunan di dua wilayah, terutama daerah Gondokusuman, Kota Yogyakarta, dan kampung Sorowajan Banguntapan, Kabupaten Bantul

    "Kami kira angin biasa kalau mau hujan, tapi lama-lama, kok, membesar dan cepat? Terus seng-seng dan wung (bagian atas perekat genteng) di rumah mulai copot terbang kelempar ke atas," ujar Dwi Wayudiono, warga Sorowajan RT 02 RW 08, Banguntapan, Bantul, kepada Tempo.

    Baca juga: BNPB: Puting Beliung Berpotensi Terjadi Hingga Pertengahan Mei

    Dwi mengatakan tak hanya seng yang terlempar ke atas. Yang membuat warga lebih panik, kata dia, adalah ketika genteng-genteng mulai melorot dan membuat suasana makin mencekam di kampung itu.

    "Suaranya, 'Wush, wush, wush,' enggak berhenti. Semua langsung lari ke lapangan, takut rumah rubuh," ucapnya.

    Di kampung yang berdekatan dengan sentra pabrik kulit itu, total ada 11 rumah mengalami kerusakan. "Syukurlah enggak ada yang sampai luka, cuma senam jantung saja karena enggak pernah seperti ini anginnya," tuturnya. Warga pun tak perlu mengungsi karena mereka kerja bakti memperbaiki kerusakan seusai kejadian.

    Angin puting beliung yang melanda Yogyakarta itu merusak berbagai bangunan. Tak hanya lebih dari 50 rumah warga rusak, tapi juga atap halte Trans Jogja, warung bubur ayam, sampai tembok garasi perusahaan bus di Yogyakarta sepanjang 20 meter ikut roboh.

    Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Yogyakarta Nyoman Sukanta mengatakan, saat ini, wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dalam masa pancaroba, yaitu masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau.

    Pada masa ini, awan yang terbentuk berjenis konvektif, yang sifatnya kerap lokal. Awan ini berpotensi menyebabkan hujan intensitas lebat dan dalam durasi singkat, angin puting beliung, dan petir. Masa pancaroba ini diprakirakan akan berlangsung hingga awal Mei.

    "Artinya pada musim pancaroba ini ada peluang akan terjadinya puting beliung tinggi," kata Sukanta.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.