Polri: Kabar Bohong atau Hoax Dibuat Orang Pintar Tapi Jahat

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga membubuhkan tanda tangan saat berlangsung aksi deklarasi Pilkada 2018 dan Pemilu 2019 Damai oleh Gerakan Pemuda Islam Indonesiadi Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, 25 Maret 2018. Aksi yang diisi dengan penggalanan tanda tangan dari masyarakat tersebut bertujuan untuk mendukung Pilkada 2018 dan Pemilu 2019 yang damai dengan menolak segala kampanye hitam, ujaran kebencian, informasi

    Warga membubuhkan tanda tangan saat berlangsung aksi deklarasi Pilkada 2018 dan Pemilu 2019 Damai oleh Gerakan Pemuda Islam Indonesiadi Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, 25 Maret 2018. Aksi yang diisi dengan penggalanan tanda tangan dari masyarakat tersebut bertujuan untuk mendukung Pilkada 2018 dan Pemilu 2019 yang damai dengan menolak segala kampanye hitam, ujaran kebencian, informasi "hoax". ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktorat Siber Badan Reserse Kriminal Polri menjelaskan sepanjang tahun 2017 ada sebanyak 1.400 laporan soal hoax yang diterima.

    "Di bulan April 2018, jumlahnya sudah mendekati seribu," kata Kepala Unit 5 Subdit 3 Siber Bareskrim Ajun Komisaris Polisi Bayu Harnanto, saat menjadi pembicara di diskusi soal Hoax Polri di Hotel 88, Jakarta Selatan, Selasa, 24 April 2018.

    Pernyataan Bayu itu disampaikan dalam rangka mengajak masyarakat memerangi hoax di media sosial. Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto menjelaskan 60 persen informasi yang berada di media sosial merupakan hoax.

    Baca juga: PPATK Sebut Tidak Sulit Telusuri Aliran Dana Situs Hoax

    Sehingga, kata Setyo, masyarakat perlu untuk melakukan filter terhadap informasi yang diterima. Ia menjelaskan kabar bohong atau hoax dibuat oleh orang pintar tapi jahat. Namun yang lebih parahnya lagi, hoax disebarkan oleh orang baik tapi bodoh.

    Di kesempatan yang sama, sosiolog dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UI, Devi Rahmawati menjelaskan kabar hoax disebarkan masyarakat bukan dengan niat jahat, tetapi ingin menjadi pahlawan bagi orang lain.

    "Apa lagi saat diberikan jempol atau like, menjadi legitimasi soal kepahlawanan itu," kata dia.

    Baca juga: NU dan Muhammadiyah Bertemu, Bahas Hoax hingga Tahun Politik

    Adapun penyebab lain hoax mudah menyebar, kata Devi, disebabkan masyarakat tidak mau merasa takut sendirian. Sehingga informasi yang dirasa mengerikan, seperti telur palsu dan beras plastik, akan mudah disebarluaskan oleh masyarakat.

    "Apalagi kalau info hoax didapatkan dari orang dekat, biasanya tidak dipertanyakan lagi kebenarannya," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.