Setya Novanto Sempat Tertidur saat Jalani Sidang Putusan

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terdakwa kasus e-ktp Setya Novanto pada sidang putusan di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, 24 April 2018. TEMPO/Maria Fransisca Lahur

    Terdakwa kasus e-ktp Setya Novanto pada sidang putusan di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, 24 April 2018. TEMPO/Maria Fransisca Lahur

    TEMPO.CO, Jakarta - Setya Novanto, terdakwa kasus korupsi e-KTP, lebih banyak memejamkan mata saat mendengarkan majelis hakim membacakan fakta hukum dalam sidang putusan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, hari ini. Setya bahkan terlihat beberapa kali menundukkan kepalanya dengan mata terpejam.

    Setelah beberapa kali kepalanya menunduk, Setya tampak duduk tegak. Ia pun memandang ke arah majelis hakim yang sedang membacakan fakta-fakta hukum. Namun, selang semenit, Setya kembali memejamkan matanya.

    Baca: Sebelum Jalani Sidang Vonis, Setya Novanto Sampaikan Harapannya

    Sidang Setya Novanto dengan agenda pembacaan putusan ramai pengunjung. Hal ini berbeda dengan sidang-sidang sebelumnya. Sisi kiri dan kanan ruang sidang dipenuhi para wartawan yang hendak meliput jalannya sidang.

    Istri Setya, Deisti Astriani, duduk di deretan kursi paling depan. Seorang perempuan memeluknya. Tempo sempat meminta wawancara sebelum sidang, tetapi Deisti menolak memberikan keterangan apa pun.

    Sidang putusan Setya Novanto mulai berlangsung pukul 10.55, molor 55 menit dari jadwal. Hingga kini, majelis hakim masih membacakan fakta-fakta hukum yang menjadi pertimbangan putusan.

    Baca: Setya Novanto Hadapi Sidang Vonis, Berikut Kronologi Kasusnya

    Sebelum sidang, Setya mengatakan dirinya berharap mendapatkan hukuman seringan-ringannya. Ia mengatakan menyerahkan semua keputusan kepada hakim. "Mudah-mudahan diputuskan seadil-adilnya dan seringan-ringannya. Kita serahkan semuanya kepada Allah SWT," kata Setya saat baru turun dari mobil di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Pusat.

    Dalam pertimbangannya, hakim mengatakan Setya Novanto menerima imbalan proyek e-KTP sebesar 7,3 juta USD. Hakim juga menyebut Setya menerima satu jam tangan merek Richard Mille seharga USD 135 ribu.

    Sebelumnya jaksa KPK menuntut Setya Novanto dihukum 16 tahun penjara ditambah denda Rp 1 miliar subsider enam bulan kurungan. Jaksa menilai Setya terbukti melakukan tindak pidana korupsi dalam proyek e-KTP.

    Selain itu, jaksa KPK meminta Setya membayar uang pengganti sebesar US$ 7,435 juta dikurangi Rp 5 miliar, seperti yang sudah dikembalikan oleh Setya. Uang pengganti itu harus dibayarkan kepada KPK selambat-lambatnya satu bulan setelah putusan berkekuatan hukum tetap.

    Jaksa KPK juga meminta hak politik Setya Novanto dicabut. "Mencabut hak terdakwa dalam menduduki jabatan publik selama lima tahun setelah selesai menjalani masa pemidanaan," ujar jaksa Abdul Basir pada Kamis, 29 Maret 2018.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.