Bimanesh Sutarjo Menilai Pemberitaan tentang Dirinya Berlebihan

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tersangka menghalangi penyidikan, Bimanesh Sutarjo, saat menghadiri sidang pembacaan dakwaannya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Pusat, 8 Maret 2018. TEMPO/M Julnis Firmansyah

    Tersangka menghalangi penyidikan, Bimanesh Sutarjo, saat menghadiri sidang pembacaan dakwaannya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Pusat, 8 Maret 2018. TEMPO/M Julnis Firmansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Dokter Rumah Sakit Medika Permata Hijau, Bimanesh Sutarjo, mengeluhkan pemberitaan media massa mengenai keterlibatannya dalam kasus merintangi penyidikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap Setya Novanto. Menurut Bimanesh, pemberitaan media banyak yang berlebihan.

    “Di media, saya disebut suruh pasang infus yang hanya ditempel di lengan Setya Novanto-lah, ada isu bola panaslah, saya bingung,” kata Bimanesh Sutarjo saat ditemui Tempo setelah menjalani persidangan sebagai terdakwa di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Senin, 23 April 2018.

    Baca: Bimanesh Sutarjo Akui Kecelakaan Novanto Janggal: Dibalut Selimut

    Menempel infus di lengan Setya, kata Bimanesh, berasal dari kesaksian seorang perawat Rumah Sakit Medika, Indri Astuti, Senin, 2 April 2018. Dalam kesaksiannya, Indri mengatakan Bimanesh menyuruhnya agar infus Setya cukup ditempel.

    Sedangkan mengenai bola panas, Bimanesh merujuk pada kesaksian dokter Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Medika, Michael Chia Cahaya. Pada Kamis, 22 Maret 2018, menurut Michael, Bimanesh menganggap keberadaan Setya di Rumah Sakit Medika sebagai bola panas yang siap ia hadapi. “Yang dihebohkan itu kan yang membikin misleading (menyesatkan),” ujar Bimanesh.

    Simak: Dokter Bimanesh Sutarjo Akhirnya Berkomentar

    Bimanesh berharap media membuat berita berimbang tentang dirinya. Ia ingin media melakukan konfirmasi bila ingin menulis berita tentang fakta-fakta persidangan. “Orang, kok, ada kepikiran membuat pemberitaan seperti itu. Sedih saya,” ucapnya.

    Namun, sepanjang Tempo mengikuti persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Bimanesh lebih sering menolak memberikan pernyataan kepada media. Ketika ditemui awak media, Bimanesh lebih banyak diam. Ia jarang memberikan pernyataan kepada wartawan.

    Bimanesh beralasan enggan berkomentar di media karena khawatir pernyataannya dimanfaatkan untuk pemberitaan yang heboh. “Beritakan yang jujurlah. Media dan saya tidak saling kenal, tetapi morotin saya. Itulah kenapa saya jarang berbicara di media,” tuturnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.