Yogyakarta Jadi Tuan Rumah Konferensi Hutan Hujan Asia Pasifik

Reporter:
Editor:

Widiarsi Agustina

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hutan hujan tropis. Dok Tempo

    Hutan hujan tropis. Dok Tempo

    TEMPO.CO, YOGYAKARTA- Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi Hutan Hujan Asia Pasifik, 23-25 April 2018.

    Pertemuan itu melibatkan peneliti-peneliti hutan, lahan gambut, mangrove dan karbon biru, kehutanan masyarakat, ekowisata dan konservasi keanekaragaman hayati, hutan produksi, investasi, dan perdagangan. Beberapa peneliti yang menjadi pembicara bergiat di Center for International Forestry Research (CIFOR).

    Lembaga nirlaba ini melakukan serangkaian penelitian mengenai pengelolaan hutan dan bentang alam di seluruh dunia. KTT kali ini bertema Melindungi Hutan dan Masyarakat, Mendukung Pertumbukan Ekonomi. Tujuannya meningkatkan usaha negara-negara di kawasan mencapai komitmen di bawah Perjanjian Perubahan Iklim Paris,” kata Direktur Jenderal, CIFOR, Robert Nasi melalui siaran tertulis, Senin, 24 April 2018.

    BACA: Keaslian Hutan Hujan Tropis Indonesia Terancam

    Konferensi ini mendukung Perjanjian Perubahan Iklim Paris dan mendorong pengurangan emisi gas rumah kaca dari deforestasi dan degradasi hutan di kawasan Asia Pasifik. KTT sebelumnya berlangsung di Brunei Darussalam (2016) dan di Sydney, Australia (2014).

    Asia-Pasifik penya banyak tantangan mengahadapi perubahan iklim global dan pertumbuhan populasi. Ekspansi pertanian untuk mencapai ketahanan pangan dan pembangunan ekonomi dapat mengancam keberlanjutan dan keanekaragaman hayati hutan tropis.

    Pembicara dan peserta membahas bagaimana memulihkan bentang alam yang terdegradasi dan melindungi hutan bernilai konservasi tinggi. Juga merumuskan kebijakan nasional untuk mengurangi kehilangan hutan hujan, mendukung pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

    Selain itu, untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan konservasi keanekaragaman hayati, spesies yang terancam punah, dan daerah aliran sungai. Tidak kalah pentingnya adalah membahas Reducing Emissions from Deforestation and Foresr Degradation atau pengurangan emisidari deforestasi dan degradasi hutan.

    Menteri Lingkungan dan Energi Australia Josh Frydenberg dijadwalkan datang berbicara di konferensi bersama Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya. Josh Frydenberg akan bicara bagaimana Australia mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 26 hingga 28 persen dibawah level 2005 pada tahun 2030.

    Selain soal hutan hujan, ia juga akan membahas dan memajukan aksi tata kelola hutan lestari. Sekitar satu milyar ton gas karbondioksida atau CO2 dilepaskan setiap tahun sebagai hasil deforestasi dan degradasi tanah. Itu artinya menyumbangkan sekitar 10 persen emisi gas rumah kaca. “Ini hampir dua kali lipat jumlah emisi yang dihasilkan Australia setiap tahunnya dari keseluruhan sektor ekonomi,” kata Frydenberg.

    SHINTA MAHARANI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.