Ketua KPK: Penyidik Irhamni Direkrut Lagi untuk Kasus Khusus

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua KPK Agus Rahardjo, memimpin upacara pelantikan pengambilan sumpah jabatan Deputi Penindakan dan Direktur Penuntutan KPK, di gedung KPK, Jakarta, 6 April 2018. TEMPO/Imam Sukamto

    Ketua KPK Agus Rahardjo, memimpin upacara pelantikan pengambilan sumpah jabatan Deputi Penindakan dan Direktur Penuntutan KPK, di gedung KPK, Jakarta, 6 April 2018. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK Agus Rahardjo mengatakan perekrutan kembali penyidik dari kepolisian, Muhammad Irhamni, berkaitan dengan suatu kasus yang tengah ditangani KPK.

    "Dia direkrut untuk menyelesaikan kasus yang khusus," katanya di kantor Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Jakarta, Selasa, 17 April 2018.

    Sebelumnya, perekrutan kembali Irhamni diduga berkaitan dengan kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Irhamni, yang pernah menjadi penyidik KPK, dulu menangani kasus korupsi BLBI dan korupsi Wisma Atlet Hambalang.

    Baca juga: KPK Dapat Tambahan 25 Penyidik Baru

    KPK membuka kembali pengusutan kasus BLBI sejak 2013. Hingga sekarang, KPK baru menetapkan satu tersangka, yakni Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional Syafruddin Arsyad Tumenggung.

    KPK menyangka Syafruddin telah memaksakan penerbitan surat keterangan lunas untuk pemegang saham Bank Dagang Negara Indonesia Sjamsul Nursalim meski piutang negara masih Rp 3,7 triliun. Belakangan, Badan Pemeriksa Keuangan memperkirakan total kerugian negara akibat kasus ini Rp 4,58 triliun.

    Wakil Ketua KPK Saut Situmorang membenarkan lembaganya tengah memantau kasus yang terjadi hampir satu dekade yang lalu itu. Namun dia enggan mengkonfirmasi keterkaitan antara perekrutan Irhamni dan penyelesaian kasus tersebut. "Kasus ini masih dalam rentang waktu batas kedaluwarsa kasus," ujarnya.

    Baca juga: KPK Akan Periksa Internal Dirdik Aris Budiman

    Sejumlah sumber menyebutkan Direktur Penyidikan KPK Brigadir Jenderal Aris Budiman-lah yang berusaha memasukkan Irhamni kembali bertugas di KPK. Padahal penyidik tersebut sudah sepuluh tahun bekerja di KPK dan sudah dikembalikan ke kepolisian.

    Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 103 Tahun 2012 tentang Sistem Manajemen Sumber Daya Manusia KPK, batas maksimal seorang penyidik dari kepolisian adalah sepuluh tahun.

    Usul Aris ini kemudian memantik penolakan dari internal KPK. Sebagian penyidik internal menuding Aris memasukkan kuda Troya—istilah untuk strategi Yunani saat menyelundupkan pasukan untuk menaklukkan kota Troya—ke KPK.

    Atas polemik itu, Agus mengatakan KPK akan mengkaji ulang pengangkatan Irhamni. "Kami akan kaji lagi," ucapnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.