Sistem Penilaian SBMPTN Diubah, Begini Tiga Tahapannya

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Peserta mengikuti ujian SBMPTN 2017 di ruang F-MIPA Universitas Negeri Yogyakarta, 16 Mei 2017. SMBPTN 2017 dapat diikuti oleh siswa lulusan SMA sederajat tahun 2015, 2016, dan 2017. TEMPO/Pius Erlangga

    Peserta mengikuti ujian SBMPTN 2017 di ruang F-MIPA Universitas Negeri Yogyakarta, 16 Mei 2017. SMBPTN 2017 dapat diikuti oleh siswa lulusan SMA sederajat tahun 2015, 2016, dan 2017. TEMPO/Pius Erlangga

    TEMPO.CO, Jakarta - Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2018 mengubah sistem penilaian. Mulai tahun ini, penilaian dalam ujian SBMPTN mengacu pada karakteristik soal.

    "Penilaian terhadap jawaban SBMPTN 2018 tidak lagi menggunakan skor seperti tahun sebelumnya, tapi berdasarkan karakteristik soal," kata Sekretaris Jenderal Panitia SBMPTN Joni Hermana, dalam keterangan tertulisnya pada Jumat, 6 April 2018.

    Joni mengatakan, mulai tahun ini, penilaian terhadap jawaban SBMPTN 2018 tidak lagi menggunakan skor empat untuk jawaban benar, skor nol (0) untuk yang tidak menjawab, dan skor negatif 1 (-1) untuk jawaban yang salah seperti pada SBMPTN 2017.

    Baca: SBMPTN 2018 Dibuka, Tips Anak Belajar Efektif

    Penilaian SBMPTN tahun ini akan melalui tiga tahap. Tahap pertama adalah semua jawaban peserta SBMPTN 2018 akan diproses dengan memberi skor 1 (satu) pada setiap jawaban yang benar, dan skor 0 (nol) untuk setiap jawaban yang salah atau tidak dijawab/kosong. Pada tahap kedua, soal ujian akan di-karakteristik-an berdasarkan tingkat kesulitan relatifnya terhadap soal lain. Dengan kategori mudah, sedang, dan sulit.

    Menurut Joni, untuk menentukan karakteristik soal, tim penilai menggunakan pendekatan teori respons butir (item response theory). "Setiap soal akan dianalisis karakteristiknya, dengan mengacu pada pola respons jawaban semua peserta," katanya.

    Baca: Kemenristekdikti Resmi Luncurkan SNMPTN dan SBMPTN 2018

    Setelah mengetahui tingkat kesulitan soal, kata Joni, tahap selanjutnya adalah menghitung skor peserta. Soal-soal sulit akan mendapatkan bobot yang lebih tinggi dibanding soal-soal yang lebih mudah. Menurut Joni, dengan sistem ini, setiap peserta yang dapat menjawab jumlah soal yang sama dengan benar yang sama, akan mendapatkan nilai yang berbeda.

    Joni mencontohkan, peserta A dapat menjawab dengan benar lima soal, yaitu nomor 1, 5, 7, 11, dan 13, sedangkan peserta B juga dapat menjawab lima soal dengan benar, yaitu nomor 1, 5, 9, 12, dan 15. Kedua peserta, kata dia, akan mendapatkan skor akhir yang berbeda karena butir soal yang dijawab dengan benar oleh peserta A memiliki tingkat kesulitan yang berbeda dengan butir soal yang dikerjakan dengan benar oleh peserta B.

    Menurut Joni, metode penilaian ini sudah diterapkan di sejumlah negara maju. Menurut dia, metode tersebut dapat membedakan kemampuan peserta dengan lebih baik.

    Ujian SBMPTN 2018 akan digelar pada 8 Mei 2018. Pendaftaran masih dibuka sampai 27 April 2018 secara daring di http://pendaftaran.sbmptn.ac.id.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.