Pengamat: Duel Ulang Jokowi-Prabowo Tak Menarik Ditonton

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jokowi menghampiri kursi Prabowo Subianto yang juga hadir di acara Rapat Kerja Nasional Partai Amanat Nasional di Jakarta, 6 Mei 2015. Jokowi mengatakan alasan ia menghampiri Prabowo karena dia sangat berbahagia Koalisi Merah Putih dan Koalisi Indonesia Hebat hadir bersama di dalam Rakernas PAN. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Jokowi menghampiri kursi Prabowo Subianto yang juga hadir di acara Rapat Kerja Nasional Partai Amanat Nasional di Jakarta, 6 Mei 2015. Jokowi mengatakan alasan ia menghampiri Prabowo karena dia sangat berbahagia Koalisi Merah Putih dan Koalisi Indonesia Hebat hadir bersama di dalam Rakernas PAN. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago menilai bahwa partai politik pendukung Joko Widodo atau Jokowi senang ketika Rapat Koordinasi Nasional Partai Gerindra memutuskan mengusung Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada pemilihan presiden (pilpres) 2019.

    Dengan keputusan tersebut, tercipta kontestasi seperti pada pilpres 2014.

    "Jadi agenda setting pendukung Jokowi kelihatan sekali, yaitu bagaimana caranya agar terulang kembali head to head Jokowi dengan Prabowo. Saat ini yang dilawan Prabowo adalah Jokowi sebagai petahana, dulu Jokowi bukan petahana saja Prabowo kalah," kata Pangi dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Sabtu malam.

    Baca juga: Prabowo Subianto Siap Duel dengan Jokowi di Pilpres 2019

    Dia menilai, apabila Prabowo berhadapan dengan Jokowi, artinya sama saja Ketua Umum Partai Gerindra itu kembali memberikan "tiket gratis" kepada Jokowi menjadi presiden dua periode.

    Menurut dia, seharusnya Prabowo belajar banyak dari Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang lebih memilih menahan diri dan merelakan PDIP untuk mengusung Jokowi sebagai presiden dalam pilpres 2014.

    "Karena itu mendaur ulang pertarungan lama antara Jokowi dan Prabowo pada pilpres 2019 menjadi tidak menarik lagi untuk ditonton. Padahal masyarakat ingin pertarungan aktor baru sehingga film menjadi menarik dan seru," ujarnya.

    Baca juga: Pilpres 2019, Elektabilitas Prabowo Subianto Saingi Jokowi

    Di sisi lain, menurut Pangi, kekuatan mesin partai politik pendukung Prabowo dalam pilpres kalah banyak dan kalah kuat dari koalisi partai politik pendukung Jokowi. Selain itu, dia menilai, saat ini Jokowi sedang menyiapkan beberapa "senjata" pendongkrak elektabilitas yang membuat pemilih enggan bergeser dalam mendukung Jokowi.

    "Keunggulan pembangunan infrastruktur pemerintahan Jokowi yang menjadi kelebihannya. Ini akan membuat Prabowo makin sulit lagi mengimbangi Jokowi," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.