Tutup Pleidoi, Setya Novanto Baca Puisi Di Kolong Meja

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terdakwa kasus e-KTP, Setya Novanto membacakan pledoi di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Jumat, 13 April 2018. TEMPO/Maria Fransisca Lahur

    Terdakwa kasus e-KTP, Setya Novanto membacakan pledoi di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Jumat, 13 April 2018. TEMPO/Maria Fransisca Lahur

    TEMPO.CO, Jakarta - Terdakwa kasus korupsi e-KTP Setya Novanto membaca puisi dalam sidang pleidoi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta. Puisi itu berjudul Di Kolong Meja karya penyair Linda Djalil.

    "Sebelum kami tutup, mohon izinkan saya membaca puisi dari Linda Djalil," kata Setya kepada majelis hakim di pengadilan Tipikor Jakarta, Jumat, 13 April 2018.

    Baca juga: Andi Narogong Bantah Keponakan Setya Novanto Kurir Duit E-KTP

    Berikut puisinya:

    Di Kolong Meja 

    Di kolong meja ada debu yang belum tersapu,
    karena pembantu sering pura pura tak tahu

    Di kolong meja ada biangnya debu yang memang sengaja tak disapu, bersembunyi berlama-lama karena takut dakwaan seru melintas membebani bahu

    Di kolong meja tersimpan cerita seorang anak manusia Menggapai hidup gigih dari hari ke hari meraih ilmu, dalam keterbatasan untuk cita-cita kelak yang bukan semu,
    tanpa lelah dan malu bersama debu menghirup udara kelabu

    Di kolong meja muncul cerita sukses anak manusia
    yang semula bersahaja, akhirnya bisa diikuti siapa saja, karena cerdas caranya bekerja

    Di kolong meja ada lantai yang mulus tanpa cela, ada pula yang terjal bergelombang
    siap menganga, menghadang segala cita-cita,
    apabila ada kesalahan membahana,
    kolong meja siap membelah, menerkam tanpa bertanya
    bahwa sesungguhnya ada berbagai sosok yg sepatutnya jadi sasaran

    Di kolong meja ada pecundang
    yang bersembunyi sembari cuci tangan
    cuci kaki
    cuci muka
    cuci warisan kesalahan

    Apakah mereka akan senantiasa di sana?
    Dengan mental banci berlumur keringat ketakutan
    dan sesekali terbahak melihat teman sebagai korban menjadi tontonan?

    Baca juga: Setya Novanto Menulis Sendiri Pleidoinya

    Usai membaca puisi, Setya Novanto kemudian menghampiri meja majelis hakim untuk menyerahkan pleidoi dan buku berjudul Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat. Buku itu merupakan buku otobiografinya.

    "Buku ini kami susun, berkaitan dengan kinerja kami, mohon diterima," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Salip Menyalip Tim Sepak Bola Putra Indonesia Versus Vietnam

    Timnas U-23 Indonesia versus Vietnam berlangsung di laga final SEA Games 2019. Terakhir sepak bola putra meraih emas di SEA Games 1991 di Filipina.