Cerita Adik Raja Yogya Ikut Nimbrung di Acara SBY

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • GBPH Prabukusumo. TEMPO/Arif Wibowo

    GBPH Prabukusumo. TEMPO/Arif Wibowo

    TEMPO.CO, Jakarta - Adik tiri Raja Keraton Yogya Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gusti Bendoro Pangeran Haryo Prabukusumo tiba-tiba saja muncul dalam acara ‘Ngopi Bareng SBY’ yang digelar Partai Demokrat di warung Pendapa Lawas Yogya pada Ahad petang 8 April 2018.

    Mantan Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat DIY itu hadir dan duduk bersebelahan dengan Ketua Umum Partai Demokrat, Soesilo Bambang Yudhoyono atau SBY di bangku warung. Di antara Prabu dan SBY, tampak pula sejumlah politikus Partai Demokrat seperti Roy Suryo, Andi Mallarangeng, dan Syarief Hasan. “Untuk reuni saja, kangen karena lama tidak bertemu pak SBY,” ujar Prabukusumo.

    Prabukusumo merupakan tokoh Keraton Yogya yang sempat kecewa dan marah kepada SBY juga Partai Demokrat hingga memilih hengkang dari partai itu tahun 2010 silam. Jabatan Ketua DPD Demokrat DIY pun saat itu rela ia lepaskan.

    Baca juga: Saat SBY Menyinggung Perannya Lahirkan UU Keistimewaan Yogya

    Prabukusumo kecewa karena Demokrat dan SBY kala menjadi Presiden RI saat itu sempat tak setuju untuk mengakomodasi mekanisme penetapan jabatan gubernur dan wakil gubernur DIY masuk Rancangan Undang-undang Keistimewaan (RUUK).

    Situasi politik antara Yogya dengan pusat sempat memanas karena SBY dalam pidatonya dalam rapat kabinet tahun 2010 sempat mengatakan jika sistem pemerintahan Yogya tak mungkin menjadi monarki.

    Prabukusumo pun kala itu sampai enggan menyebut lagi nama Partai Demokrat dan memilih dengan sebutan ‘Partai Itu’.

    Dalam pertemuan dengan SBY dan sejumlah petinggi Partai Demokrat malam itu, Prabu menuturkan tak ada pembicaraan serius dengan SBY dan Partai Demokrat.

    Namun Prabu juga membantah jika pertemuan dengan SBY itu sebagai pertanda ia akan kembali bergabung lagi dengan Demokrat.

    “Saya tidak ingin berpolitik lagi, sudah tua, keluarga dan teman-teman tidak memperbolehkan,” ujar Prabu berseloroh. Prabu menuturkan, saat ini ia hanya menjalin silatuhami saja dengan berbagai partai politik.

    Prabu menuturkan, polemik Keraton dengan Partai Demokrat terkait UU Keistimewaan DIY di masa lalu juga sudah selesai dan membaik.

    Baca juga: Nikmati Angkringan di Yogya, SBY Disambut Lagu Sepasang Mata Bola

    Prabu pun bercerita saat Presiden SBY melantik gubernur dan wakil gubernur DIY pasca UU Keistimewaan disahkan 2012 lalu, ia juga sudah menemui SBY untuk saling bicara terkait polemik UU Keistimewaan. Dari pertemuan dengan SBY itu, Prabu mendapat informasi ada pihak yang mendorong SBY dan Demokrat bersikap antipati pada mekanisme penetapan gubernur dan wakil gubernur masuk UU Keistimewaan. Namun Prabu enggan mengungkapnya.

    “Jadi sudah nggak ada masalah apa-apa, dulu juga sebenarnya nggak ada masalah, tak usah diungkit lagi,” ujar Prabu yang kini aktif sebagai Ketua Palang Merah Indonesia DIY itu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kerusuhan Manokwari, Bermula dari Malang Menjalar ke Sorong

    Pada 19 Agustus 2019, insiden Kerusuhan Manokwari menjalar ke Sorong. Berikut kilas balik insiden di Manokwari yang bermula dari Malang itu.