Soal Poros Ketiga, AHY: Tak Semudah yang Dibayangkan

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Kogasma Pemenangan Pilkada Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) berdialog dengan berbagai komunitas dan generasi muda di Kafe Rolag, Sidoarjo, 1 April 2018. AHY melakukan safari politik di Jawa Timur dengan menghadiri berbagai acara termasuk ziarah ke makam Gus Dur. Foto: Kogasma Partai Demokrat

    Ketua Kogasma Pemenangan Pilkada Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) berdialog dengan berbagai komunitas dan generasi muda di Kafe Rolag, Sidoarjo, 1 April 2018. AHY melakukan safari politik di Jawa Timur dengan menghadiri berbagai acara termasuk ziarah ke makam Gus Dur. Foto: Kogasma Partai Demokrat

    TEMPO.CO, Jakarta - Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY angkat bicara mengenai wacana poros ketiga untuk pemilihan presiden 2019.

    Wacana poros ketiga itu sempat mencuat setelah beberapa partai belum memutuskan apakah mendukung Jokowi atau masuk ke koalisi Gerindra dan PKS. Tiga partai, yaitu Demokrat, PKB, dan PAN, disebut-sebut bisa memunculkan poros ketiga karena jumlah kursi mereka mencukupi jika ingin mencalonkan presiden pada pilpres 2019.

    “Dalam politik ini semua masih mungkin, kita tidak tahu dan tidak boleh mendahului rencana Tuhan,” ujar AHY.

    Baca juga: Survei: Poros Ketiga Bisa Bikin Pilpres 2019 Dua Putaran

    AHY mengakui sampai saat ini pihaknya belum bisa memastikan apakah poros ketiga itu memang bisa terbangun pada pemilu 2019, atau kemungkinannya pemilu 2019 tetap seperti 2014, yang hanya terdiri atas dua poros.

    “Kami masih olah terus kemungkinan menghadirkan poros ketiga ini, dan memang tidak mudah dan sesederhana yang dibayangkan,” katanya.

    Kendala pembentukan poros ketiga itu, ujar AHY, karena dipicu dua hal. Pertama, adanya kebijakan terkait dengan presidential threshold sebesar 20 persen yang mengunci gerak partai-partai politik. Ketika gerak partai politik itu terkunci, menurut AHY, tak banyak partai politik yang bisa dijadikan jangkar untuk mempersatukan koalisi.

    Namun, AHY menuturkan, sulitnya membangun poros ketiga ini justru menjadikan pemilu 2019 ajang seru dan menarik. Terutama pada bulan-bulan sebelum pendaftaran calon dan wakil presiden itu berlangsung pada 4-10 Agustus 2018.

    Adapun Sekretaris Partai Demokrat Hinca Panjaitan menuturkan upaya pembentukan poros ketiga sebenarnya masih terus berjalan. Dimulai dengan pertemuan pertama antara Sekretaris Jenderal dari tiga partai pada 9 Maret 2018.

    Pertemuan pertama dihadiri Hinca Panjaitan selaku Sekjen Demokrat, Sekjen PAN Edy Suparno, dan Sekjen PKB Abdul Kadir Karding, yang diwakilkan wakil bendahara umum partai.

    Baca juga: Survei: Jika Ada Poros Ketiga, AHY-Zulkifli Hasan Pasangan Kuat

    “Kami sudah bicara soal poros ketiga di situ tapi belum detail, jadi kami rancang pertemuan berikutnya karena waktunya sering tidak pas antarpartai,” ujar Hinca.

    Misalnya, kata Hinca, untuk mempertemukan antarketua umum partai selalu ada beda jadwal. Saat Ketua Umum Demokrat Soesilo Bambang Yudhoyono dan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar ada waktu, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan yang tak bisa.

    Demokrat sendiri menilai masih banyak waktu untuk melahirkan poros ketiga ini. Sebab, Presiden Jokowi pun belum mendeklarasikan diri sebagai presiden. Yang mendeklarasikan Jokowi adalah partainya, PDI Perjuangan.

    “Dan deklarasi untuk Pak Jokowi baru capresnya, belum ada calon wapresnya. Masak, KPU menerima pendaftaran cuma dari capres?” kata Hinca.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.