JK: Metode Cuci Otak Dokter Terawan Bermanfaat

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ruang Digital Subtraction Angiography (DSA) atau tempat praktek metode cuci otak Mayor Jenderal TNI Terawan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat, Jakarta, 4 April 2018. TEMPO/Hendartyo Hanggi

    Ruang Digital Subtraction Angiography (DSA) atau tempat praktek metode cuci otak Mayor Jenderal TNI Terawan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat, Jakarta, 4 April 2018. TEMPO/Hendartyo Hanggi

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan metode cuci otak yang diterapkan Mayor Jenderal dokter Terawan Agus Putranto bermanfaat. Dia sudah membuktikannya sendiri. JK mengaku pernah menjalani pembersihan sumbatan di saluran darah otak menggunakan cairan heparin di rumah sakit yang dipimpin Terawan, Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta.

    Tak hanya dia, kata JK, sejumlah menteri di Kabinet Kerja juga pernah melakukannya. JK mengetahuinya saat rapat kabinet terbatas dengan sepuluh menteri di Istana, Jumat, 6 April 2018. Ia bertanya, berapa anggota Kabinet Kerja yang pernah menggunakan metode cuci otak dokter Terawan. “Dari sepuluh, enam termasuk saya (pernah dirawat)," ujarnya di Sekretariat PMI, Jakarta, Jumat, 6 April 2018. 

    Baca: 
    Pemecatan Dokter Terawan, MKEK IDI Beri...
    Menkes Minta Kasus Dokter Terawan Diselesaikan Internal dengan ID

    JK juga menyatakan teknik yang diterapkan Terawan telah membantu mantan wakil presiden, Try Sutrisno. "Pak Tri itu termasuk orang yang dibantu tepat waktu oleh Pak Terawan," tutur JK.

    Dengan banyaknya pasien yang ditangani dokter Terawan, JK menilai tindakan dokter tersebut bermanfaat, meski banyak perselisihan pendapat. Dia berharap Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengkaji kembali kinerja Terawan. "Ya, di internal dikaji dengan baik."

    Baca juga: Tunjukkan Ruang Metode Cuci Otak, Terawan...

    IDI menghukum Terawan dengan pemberhentian sementara sebagai anggota terhitung mulai 26 Februari 2018 hingga 29 Februari 2019. Akibat sanksi itu, Kepala RSPAD itu kehilangan izin praktik. Dia dinilai menyalahi etik lantaran metode cuci otak yang diterapkannya belum teruji secara klinis. 

    Meski begitu, IDI memberi kesempatan dengan membuka sidang pembelaan untuk Terawan. Dalam sidang itu, Terawan akan mendapat bantuan pendampingan dari Pengurus Besar IDI.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.