Aher Melepas Peserta Festival Puncak Papua

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aher Lepas Peserta Festival Puncak Papua

    Aher Lepas Peserta Festival Puncak Papua

    INFO JABAR - Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan melepas 53 orang peserta Festival Puncak Papua yang akan berlangsung April-Juni 2018, pada Rabu, 4 April lalu. Salah satu kegiatan  dalam festival ini yaitu Live in Papua.

    Misi festival ini adalah interaksi penjelajahan alam dan edukasi kepada masyarakat lokal di Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua. Kegiatannya antara lain, pendakian Puncak Yamin, Puncak Mandala, Live In, dan Festival Budaya. Peserta akan menetap selama tiga minggu (6-26 April 2018) bersama masyarakat lokal Pegunungan Bintang.

    Managing Director Indonesia Mengajar, Haiva Ratu Muzdaliva mengungkapkan bahwa fokus kegiatan  adalah pendidikan. Indonesia Mengajar telah memilih 30 orang dari 211 pendaftar untuk Live In. "Melalui program ini kita mengajak masyarakat luas, mereka yang terpilih akan tinggal di tujuh desa selama kurang lebih satu sampai tiga minggu," kata Haiva.

    Para peserta akan melakukan kegiatan sesuai dengan latar belakang profesinya. Jika dia pekerja pendidikan atau guru, akan sharing seputar motivasi dan masa depan ke anak-anak di sana. "Kemudian ada pos kerja juga untuk kesehatan masyarakat, seperti budidaya apotik hidup, edukasi kesehatan. Ada soal pendataan juga, sosial antropologi dan pendataan lingkungan," tutur Haiva.

    Tujuan yang ingin dicapai melalui kegiatan ini yaitu dampak jangka panjang untuk masyarakat Pegunungan Bintang. "Harapannya, dengan festival ini akan membantu dampak pendidikan yang berkelanjutan di sana," ujar Haiva.

    Kegiatan lain yaitu pendakian Puncak Yamin dan Mandala, akan berlangsung selama Mei-Juni. Puncak dari rangkaian kegiatan ini adalah Festival Budaya yang akan berlangsung Oktober di Jakarta dan Bandung. Kegiatan festival antara lain pemutaran film tentang kegiatan Live In Papua. "Kita ingin membuka ruang informasi dengan cara, kita membentuk wadah interaksi antara masyarakat umum dengan masyarakat Pegunungan Bintang di Papua," tutur Dzaki, Ketua Pelaksana Festival Puncak Papua.

    Dzaki berharap masyarakat luas akan semakin banyak ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. "Harapan saya juga, nilai-nilai positif dari kegiatan ini bisa menular ke masyarakat lainnya," ucapnya.

    Sebelumnya, para peserta juga diberikan pelatihan di alam terbuka. Pelatihan dilakukan dalam empat kali tahapan. Pelatihan pertama di pegunungan Ciwidey dan Desa Cidadap. Pelatihan kedua di pegunungan Cangkok Subang dan Gunung Halimun. Pelatihan ketiga pemanjatan di Tebing Citatah 125, dan pelatihan keempat di pegunungan Argopuro Jawa Timur.

    Para peserta berasal dari berbagai latar belakang. Antara lain guru, dosen, jurnalis, tenaga medis, dan mahasiswa. Untuk itu, Wanadri berkolaborasi dengan Indonesia Mengajar. Mereka tidak hanya dari Jawa Barat, namun juga dari berbagai daerah lain di Indonesia.

    Sementara itu, dalam sambutannya, Gubernur Aher mengapresiasi kegiatan positif yang diinisiasi oleh Wanadri dan komunitas Indonesia Mengajar ini. "Kegiatan ini sangat berharga, menghadirkan pengalaman secara khusus bagi para pelakunya, dan bermanfaat untuk masyarakat setempat, khususnya saudara-saudara kita di sana (Papua)," ujar Aher.

    Aher berpesan, agar peserta menghadirkan kekokohan stamina jasmani rohani dan rohani selama berada di Papua. Mereka juga diminta mengkomsumsi makanan bergizi tingkat tinggi, seperti madu, susu, dan daging.

    Aher juga berpesan kepada para peserta untuk  tidak bersikap sombong kepada alam. Karena alam tidak suka dengan kesombongan. "Jaga moral, jangan ada kesombongan. Biasanya  sesat di perjalanan karena ada kesombongan terhadap alam. Akibat sombong terhadap alam, sombong juga terhadap penguasa alam, Allah Rabbul 'Alamin," katanya. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pro Kontra Kemendikbud Menerapkan Zonasi Sekolah pada PPDB 2019

    Zonasi sekolah di PPDB yang diterapkan Kemendikbud memicu pro dan kontra. Banyak orang tua menganggap sistem ini tak adil dan merugikan calon siswa