Saksi: Setya Novanto Minta Kepalanya Diperban Meski Hanya Lecet

Reporter

Terdakwa Kasus Korupsi Pengadaan KTP elektronik Setya Novanto mendengarkan pembacaan tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK saat menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, 29 Maret 2018. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

TEMPO.CO, Jakarta - Supervisor Keperawatan Rumah Sakit Medika Permata Hijau Indri Astuti mengatakan Setya Novanto meminta dirinya diperban usai mengalami kecelakaan pada 16 November 2017. Padahal menurut Indri, pemasangan perban harus dengan perintah dokter.

“Pak Setya bilang ‘kapan saya diperban?’. Saya kaget karena sebelumnya dia diam saja sejak dibawa ke ruang perawatan,” kata Indri saat bersaksi untuk terdakwa Bimanesh Sutarjo di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Pusat, Senin 2 April 2018.

Menurut Indri, Setya meminta diperban dengan cara membentak. Hakim Machfudin kemudian bertanya kepada Indri apakah pemasangan perban tersebut sudah mendapatkan perintah dari dokter Bimanesh Sutarjo yang menangani Setya. “Belum pak,” ujar Indri.

Baca: Sidang Bimanesh, Pemasang Infus Setya Novanto Jadi Saksi Hari Ini

Karena belum mendapatkan persetujuan Bimanesh, Indri mengatakan dirinya tidak langsung memasang perban ke dahi kiri Setya. Ia kemudian menuju ke ruang perawatan untuk bertemu Bimanesh. Saat itu, menurut dia, Bimanesh sedang menulis lembar catatan dokter.

Indri kemudian bertanya Bimanesh apakah mengizinkan Setya untuk diperban. Bimanesh pun mengizinkan Indri untuk memasang perban ke dahi kiri Setya. “Dokter Bimanesh mengatakan ‘ya sudah diperban saja demi kenyamanan pasien’,” kata Indri.

Mendengar persetujuan dari Bimanesh, Indri kemudian kembali ke ruang 323, tempat Setya dirawat. Ketika sedang menyiapkan alat dan bahan, tiba-tiba Indri kembali dikagetkan oleh Setya yang meminta obat merah. Menurut Indri, Setya kembali meminta dengan cara membentak.

Baca: Cerita Perawat Saat Setya Novanto Tiba di RS Usai Kecelakaan

Indri mengaku bingung menghadapi Setya yang tiba-tiba meminta obat merah. Dua kali dibentak, Indri pun emosi. Ia spontan menjawab permintaan Setya dengan ketus.

“Saya bilang saja ‘obat merah sudah tidak ada pak di rumah sakit’. Saya jadi emosi karena kok minta obat merah padahal lukanya tidak berdarah-darah,” kata dia. Para pengunjung sidang tertawa mendengar keterangan Indri.

Sedangkan perawat lain yang saat itu juga menangani Setya, yaitu Nurul Rahmah Nuari, mengatakan dahi Setya hanya lecet dan tidak mengalami pendarahan. Nurul mengatakan dahi Setya tidak perlu diperban dan cukup hanya diberikan salep. “Kalau tidak diperban tidak apa-apa,” kata dia.

Indri dan Nurul dihadirkan sebagai saksi bagi terdakwa Bimanesh. Keduanya merupakan perawat yang menangani Setya di ruangan 323. Ketika memberikan keterangan, beberapa kali Indri terisak saat menjelaskan kejanggalan yang ia temukan. Indri mengaku tindakan yang ia lakukan saat itu tidak sesuai dengan hati nuraninya sebagai perawat.

Bimanesh diduga merekayasa rekam medis Setya Novanto untuk menghindarkannya dari pemeriksaan KPK. Jaksa mendakwa Bimanesh melanggar Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.






KPK Ungkap Penyebab Buronan Kasus Korupsi e-KTP Paulus Tannos Gagal Ditangkap

5 hari lalu

KPK Ungkap Penyebab Buronan Kasus Korupsi e-KTP Paulus Tannos Gagal Ditangkap

KPK menyebut sempat mengendus keberadaaan Paulus Tannos di Thailand.


Para Koruptor Ini Mendadak Sakit Setelah Dicokok KPK: Lukas Enembe sampai Setya Novanto

18 hari lalu

Para Koruptor Ini Mendadak Sakit Setelah Dicokok KPK: Lukas Enembe sampai Setya Novanto

Lukas Enembe tampil dengan kursi roda setalah KPK tetapkan tersangka. Sebelumnya, beberapa koruptor mendadak sakit usai dicokok KPK, ada Setya Novanto


Beberapa Anggota DPR Ini Pernah Diadukan Ke MKD, Termasuk Effendi Simbolon

14 September 2022

Beberapa Anggota DPR Ini Pernah Diadukan Ke MKD, Termasuk Effendi Simbolon

Rekam jejak DPR, sudah beberapa anggota DPR yang dilaporkan kepada MKD. Setelah Setya Novanto dan Harvey Malaiholo, ada Puan dan Effendi Simbolon.


Inilah 2 Orang yang Pernah Ditolak Permohonannya sebagai Justice Collaborator

11 Agustus 2022

Inilah 2 Orang yang Pernah Ditolak Permohonannya sebagai Justice Collaborator

Tak semua orang yang mengajukan sebagai Justice Collaborator diterima. Berikut beberapa orang yang pernah ditolak permohonannya.


Satgas BLBI Sebut Nilai Aset Besan Setya Novanto yang Disita Mencapai Rp 2 Triliun

22 Juni 2022

Satgas BLBI Sebut Nilai Aset Besan Setya Novanto yang Disita Mencapai Rp 2 Triliun

Satgas BLBI menyatakan aset milik Bank Aspac yang disita mencapai Rp 2 triliun.


Satgas BLBI Sita Aset Besan Setya Novanto Pagi Ini

22 Juni 2022

Satgas BLBI Sita Aset Besan Setya Novanto Pagi Ini

Satgas BLBI menyita aset obligos PT Bank Aspac di Bogor hari ini. Satu dari dua pemilik bank tersebut merupakan besar mantan Ketua DPR Setya Novanto.


Pengadilan Tolak Gugatan Besan Setya Novanto Atas Perkara Utang BLBI Rp 3,57 T

15 Mei 2022

Pengadilan Tolak Gugatan Besan Setya Novanto Atas Perkara Utang BLBI Rp 3,57 T

Kedua obligor BLBI ini menggugat Kementerian Keuangan dan meminta pengadilan menyatakan mereka bukan penanggung utang Bank Aspac.


KPK Periksa 3 Saksi Dalam Kasus Korupsi e-KTP Untuk Tersangka Paulus Tannos

21 Maret 2022

KPK Periksa 3 Saksi Dalam Kasus Korupsi e-KTP Untuk Tersangka Paulus Tannos

KPK melanjutkan penyidikan kasus korupsi e-KTP untuk tersangka Paulus Tannos.


KPK akan Koordinasi dengan Bareskrim soal Penyidikan TPPU Setya Novanto

12 Maret 2022

KPK akan Koordinasi dengan Bareskrim soal Penyidikan TPPU Setya Novanto

Alex mengatakan KPK perlu mengetahui tindak pidana muasal Setya Novanto yang sedang disidik Bareskrim.


Kumham Benarkan Setya Novanto Sempat Berselisih dengan Nurhadi di Sukamiskin

2 Maret 2022

Kumham Benarkan Setya Novanto Sempat Berselisih dengan Nurhadi di Sukamiskin

Dirjen Lapas membenarkan Setya Novanto sempat berselisih dengan Nurhadi di Sukamiskin.