Kisah Wiranto Soal Pendiri Pesantren yang Tiup Ubun-ubun Sukarno

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menkopolhukam Wiranto dan Ketua KPK Agus Raharjo saat membuka acara Mubes 1 Asschol Bangkalan. TEMPO/Musthofa Bisri

    Menkopolhukam Wiranto dan Ketua KPK Agus Raharjo saat membuka acara Mubes 1 Asschol Bangkalan. TEMPO/Musthofa Bisri

    TEMPO.CO, Bangkalan - Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto takjub saat mendengar Pondok Pesantren Syaikhona Mohammad Cholil (Asschol) di Kabupaten Bangkalan, Madura, merupakan tempat ulama top Indonesia menimba ilmu.

    "Ternyata pesantren ini telah berdiri sejak 1800-an, dan alumninya banyak jadi ulama dan tokoh nasional," kata Wiranto saat membuka acara Musyawarah Besar Alumni Pondok Pesantren Asschol pada Sabtu, 31 Maret 2018.

    Baca juga: RUU Terorisme, Wiranto: Pelibatan TNI Bukan Hal Baru

    Adapun tokoh-tokoh yang pernah menimba ilmu di pesantren yang dirintis ulama karismatik Madura, KH Mohammad Kholil itu, antara lain KH Hasyim Asy'ari, pendiri organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama; KH Bisri Mustofa, pendiri pesantren Raudhatul Tholibin Rembang; dan KH Munawir, pendiri pesantren Krapyak, Yogyakarta.

    Wiranto tampak makin takjub, bahwa sebelum menjadi tokoh kemerdekaan, Sukarno pernah beberapa kali sowan ke Kiai Kholil dan ditiup tiga kali ubun-ubunnya oleh kiai yang selama mondok di Kota Mekah hanya memakan kulit semangka itu selama beberapa tahun.

    "Mungkin karena ditiup ubun-ubunnya, Bung Karno jadi sosok pemberani dan pejuang kemerdekaan," kata dia sembari mengutip isi teks proklamasi yang dibuat Bung Karno.

    Pengasuh Pondok Pesantren Syaikhona Mohammad Cholil, KH Nasih Aschal, menuturkan cerita soal Bung Karno ditiup ubun-ubunnya oleh Kiai Kholil pernah disampaikan KH As'ad Syamsul Arifin, pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Situbondo. Waktu itu, Kiai As'ad masih nyantri ke Kiai Kholil.

    "Setelah Bung Karno sungkem, Kiai Kholil meniup ubun-ubunnya," kata dia.

    Syaikhona Mohammad Kholil hidup dari 1835 hingga 1925 di Bangkalan. Setelah lulus sekolah di Mekah, Kholil kembali ke Bangkalan dan mendirikan pesantren.

    Baca juga: Usul KPK tentang Perpu Calon Kepala Daerah, Wiranto: Tidak Mudah

    Setelah lulus, murid-murid Kiai Kholil banyak yang jadi ulama besar di Indonesia. Sehingga Kiai Kholil pun digelari ‘Syaikhona’ yang bermakna guru kami. "Kurang lebih ada 23 ulama yang pernah jadi santri Kiai Cholil," kata Nasib.

    Kiai Kholil sendiri dimakamkan di Desa Martajasah, Bangkalan. Hingga kini, makamnya jadi salah satu obyek wisata religi yang banyak dikunjungi peziarah dari Madura dan Jawa.

    MUSTHOFA BISRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.