Ketika Agus Rahardjo Cerita Soal Diponegoro Tampar Patih Korupsi

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua KPK Agus Rahardjo, merilis sketsa terduga pelaku penyiraman air keras kepada penyidik KPK Novel Baswedan, di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, 24 November 2017. TEMPO/Imam Sukamto

    Ketua KPK Agus Rahardjo, merilis sketsa terduga pelaku penyiraman air keras kepada penyidik KPK Novel Baswedan, di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, 24 November 2017. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Bangkalan- Pangeran Diponegoro marah besar. Dengan selopnya dia menampar wajah Danurejo IV, Patih Yogyakarta saat itu. Tindakan keras Dipenogoro yang membuat keluarga kerajaan kaget itu karena Danurejo korupsi dalam hal penyewaan lahan kerajaan pada orang Eropa.

    Nukilan buku berjudul Korupsi dalam Silang Sejarah Indonesia karya Sejarawan Inggris Peter Carey ini disampaikan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Agus Rahardjo saat memberi sambutan dalam acara pembukaan Musyawarah Besar Pertama Alumni Pondok Pesantren Syaikhona Mohammad Cholil, Demangan, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Sabtu, 31 Maret 2018.

    Baca: Penjelasan Agus Rahardjo soal 90 Peserta Pilkada Jadi Tersangka

    Lewat cerita yang terjemahkan Peter Carey dari Babad Diponegoro itu, Agus Raharjo ingin menyampaikan bahwa korupsi bukan barang baru karena telah terjadi sejak zaman kerajaan. Sejak dahulu, ujar Agus, dampak korupsi sangatlah buruk bagi masyarakat. Menurut Agus perang Jawa tidak semata dipicu oleh dirampasnya tanah raja oleh penjajah, melainkan karena korupsi.

    "Tapi banyak dari kita yang tidak menyadari dampak buruk korupsi, karena cerita-cerita sejarah seperti masa Dipenogoro tidak pernah diajarkan di sekolah," kata dia.

    Simak: KPK Belum Selidiki Nama-nama yang Disebut Setya Novanto

    Akibatnya, kata Agus, banyak hal dalam kehidupan bermasyarakat yang sebenarnya merupakan bibit korupsi namun dianggap lumrah dan wajar, seperti memberikan uang lebih saat mengurus perizinan. "Bahkan menyontek atau mengakali daftar hadir di sekolah juga bibit dari korupsi," ujar dia.

    Agus berharap kalangan santri dan alumni pesantren bisa memelopori gerakan antikorupsi. Dengan mengamalkan empat sifat Nabi Muhammad SAW yaitu Siddiq, Amanah, Tabligh dan Fathonah. "Agama Islam sangat antikorupsi, mari kita terapkan dalam kehidupan. Alumni pesantren yang jadi anggota Dewan harus jujur dan amanah," kata dia.

    Lihat: Kelakar Jusuf Kalla Soal Puluhan Anggota DPRD Sumut Tersangka

    Agus menambahkan skor Indonesia pada Indek Persepsi Korupsi (IPK) Dunia berada diangkat 37. Di Asia Tenggara, IPK Indonesia berada di bawah Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam. Bila dibandingkan pasca-orde baru, skor ini jauh meningkat. Setelah orde baru tumbang, IPK Indonesia hanya diperingkat 19, di bawah Filipina dan Thailand.

    MUSTHOFA BISRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.