Bareskrim Mabes Polri Tangkap Pria dalam Video Telur Palsu

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian DKI Jakarta melakukan konferensi pers dan uji coba di Jakgrosir Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa, 20 Maret 2018. Konferensi pers terkait dengan isu telur ayam palsu yang beredar di media sosial. Tempo/Syafiul Hadi

    Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian DKI Jakarta melakukan konferensi pers dan uji coba di Jakgrosir Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa, 20 Maret 2018. Konferensi pers terkait dengan isu telur ayam palsu yang beredar di media sosial. Tempo/Syafiul Hadi

    TEMPO.CO, Jakarta - Aparat Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian RI atau Bareskrim Mabes Polri menangkap seorang warga Jalan Kramat Raya, Jakarta, bernama Syahroni B. Daud. Pria 49 tahun itu diringkus karena menyebarkan isu beredarnya telur palsu di sejumlah wilayah Indonesia.

    Kepala Sub Direktorat II Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Komisaris Besar Asep Safrudin menuturkan polisi tengah menyelidiki isu telur palsu. Direktorat Siber Polri, kata dia, menurunkan tim ke lapangan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

    "Yang pertama kami lakukan, penyelidikan kepada video yang beredar viral di mana di dalamnya ada Pak Syahroni. Beliau datang ke sini menjelaskan bahkan mempraktikkan bagaimana telur itu dipecah kemudian kuningnya diangkat, kemudian dicium sehingga tidak berbau. Sehingga orang-orang menyangka itu palsu," kata Asep dalam konferensi pers di Kantor Unit PD Pasar Johar Baru, Jakarta Pusat, Selasa 27 Maret 2018.

    Baca: Satgas Pangan Polri: Hoax Telur Palsu Rugikan Pedagang

    Asep dan timnya melakukan koordinasi dengan pihak terkait untuk melakukan uji pada telur yang diduga palsu tersebut. Pada saat uji lab, telur yang diperoleh dari Syahroni di pasar ternyata telur asli siap konsumsi. "Banyak juga beredar isu di media sosial dengan seolah-olah telur palsu beredar. Ini ada seolah-olah orang sedang membuat telur palsu," kata Asep.

    Ia menegaskan video viral telur palsu merupakan telur mainan yang di produksi di Korea untuk dijual sebagai mainan anak-anak. Asep mengungkapkan Syahroni telah termakan isu telur palsu. "Dari hasil penyelidikan tim kami tidak ada telur palsu di Indonesia. Oleh karena itu saya imbau kepada masyarakat andaikan ada isu tersebut jangan cepat foto atau videokan dan memviralkan," ujar dia.

    Asep meminta masyarakat yang memiliki temuan pangan mencurigakan bisa menyerahkannya ke laboratorium pangan atau kepolisian setempat. "Itu lebih bagus dari pada memviralkan seolah olah itu palsu. Itu bisa dijerat dengan UU ITE menyebarkan berita bohong yang menyebabkan kerugian konsumen. Itu bisa dipidana," ujarnya.

    Simak: Edarkan Isu Telur Palsu di Masyarakat Bisa Terancam UU ITE

    Syahroni menyatakan menyesal telah menyebarkan kabar bohong peredaran telur palsu di sejumlah wilayah Indonesia lewat rekaman video yang viral. "Saya sekali lagi mohon maaf salah dalam mengasumsikan telur ini palsu," kata Syahroni. 

    Dia lantas menceritakan awal beredarnya kabar telur palsu dan rekaman video tersebut. Ketika itu, menurut Syahroni, anaknya membeli telur yang bentuknya mirip ciri-ciri telur palsu seperti informasi pesan berantai yang beredar di WhatsApp. "Saya tes dulu ketika dapat (telur beli) dari KJP (Kartu Jakarta Pintar), sama enggak seperti yang ada di WhatsApp," katanya.

    Lihat: Viral Telur Palsu, Pemprov DKI Pastikan Semua Telur Asli

    Selanjutnya dia pergi ke Pasar Johar Baru untuk menunjukkan hasil pengujian. Di sana, Syahroni menyebarkan kabar bahwa ada telur palsu kepada beberapa pembeli dan penjual di pasar tersebut. Ia bahkan turut mempraktikkan cara membuktikan bahwa itu telur palsu seperti petunjuk dalam kelompok obrolan WhatsApp.

    Rekaman video aksi Syahroni membuktikan adanya telur palsu di Pasar Johar Baru tersebut beredar lewat YouTube dan menjadi viral. Syahroni mengaku tak tahu siapa yang merekamnya di pasar. "Ilmu saya sangat sedikit dan telur yang beredar di masyarakat ini benar-benar asli, tidak ada yang palsu," tutur Syahroni.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Erupsi Merapi Dibanding Letusan Raksasa Sejak 7200 Sebelum Masehi

    Merapi pernah meletus dengan kekuatan 4 Volcanic Explosivity Index, pada 26 Oktober 2010. Tapi ada sejumlah gunung lain yang memiliki VEI lebih kuat.